Keutamaan Menjaga Lidah

Keutamaan Menjaga Lisan dan Buah Hasilnya

 Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang begitu fasih berbicara. Bahkan tak sedikit orang yang belajar khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus. Lisan memang karunia Allah yang demikian besar. Dan ia harus selalu disyukuri dengan sebenar-benarnya. Caranya adalah dengan menggunakan lisan untuk bicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri.

Orang yang banyak bicara bila tidak diimbangi dengan ilmu agama yang baik, akan banyak terjerumus ke dalam kesalahan. Karena itu Allah dan Rasul-Nya memerintahkan agar kita lebih banyak diam. Atau kalaupun harus berbicara maka dengan pembicaraan yang baik. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman : “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (Al-Ahzab: 70)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda : Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari hadits no. 6089 dan Al-Imam Muslim hadits no. 46 dari Abu Hurairah)

Lisan (lidah) memang tak bertulang, sekali engkau gerakkan sulit untuk kembali pada posisi semula. Demikian berbahayanya lisan, hingga Allah dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.

Dua orang yang berteman penuh keakraban bisa dipisahkan dengan lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa dipisahkan karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa dipisahkan dengan cepat karena lisan. Bahkan darah seorang muslim dan mukmin yang suci serta bertauhid dapat tertumpah karena lisan. Sungguh betapa besar bahaya lisan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh dalam neraka Jahannam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6092)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Sesungguhnya seorang hamba apabila berbicara dengan satu kalimat yang tidak benar (baik atau buruk), hal itu menggelincirkan dia ke dalam neraka yang lebih jauh antara timur dan barat.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6091 dan Muslim no. 6988 dari Abu Hurairah Rad. )

Al-Imam An-Nawawi mengatakan: “Hadits ini (yakni hadits Abu Hurairah yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim) teramat jelas menerangkan bahwa sepantasnya bagi seseorang untuk tidak berbicara kecuali dengan pembicaraaan yang baik, yaitu pembicaraan yang sudah jelas maslahatnya dan kapan saja dia ragu terhadap maslahatnya, janganlah dia berbicara.” (Al-Adzkar hal. 280, Riyadhus Shalihin no. 1011)

mengatakan: “ Al-Imam Asy-Syafi’i Apabila dia ingin berbicara hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya.” (Al-Adzkar hal. 284)

Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi mengatakan: “Ketahuilah, setiap orang yang telah mendapatkan beban syariat, seharusnya menjaga lisannya dari semua pembicaraan, kecuali pembicaraan yang sudah jelas maslahatnya. Bila keadaan berbicara dan diam sama maslahatnya, maka sunnahnya adalah menahan lisan untuk tidak berbicara. Karena pembicaraan yang mubah bisa menarik kepada pembicaraan yang haram atau dibenci, dan hal seperti ini banyak terjadi. Keselamatan itu tidak bisa dibandingkan dengan apapun.”

Keutamaan Menjaga Lisan

Memang lisan tidak bertulang. Apabila keliru menggerakkannya akan mencampakkan kita dalam murka Allah yang berakhir dengan neraka-Nya. Lisan akan memberikan ta’bir (mengungkapkan) tentang baik-buruk pemiliknya. Inilah ucapan beberapa ulama tentang bahaya lisan:

1. Anas bin Malik : “Segala sesuatu akan bermanfaat dengan kadar lebihnya, kecuali perkataan. Sesungguhnya berlebihnya perkataan akan membahayakan.”

2. Abu Ad-Darda’ : “Tidak ada kebaikan dalam hidup ini kecuali salah satu dari dua orang yaitu orang yang diam namun berpikir atau orang yang berbicara dengan ilmu.”

3. Al-Fudhail : “Dua perkara yang akan bisa mengeraskan hati seseorang adalah banyak berbicara dan banyak makan.”

4. Sufyan Ats-Tsauri : “Awal ibadah adalah diam, kemudian menuntut ilmu, kemudian mengamalkannya, kemudian menghafalnya lantas menyebarkannya.”

5. Al-Ahnaf bin Qais : “Diam akan menjaga seseorang dari kesalahan lafadz (ucapan), memelihara dari penyelewangan dalam pembicaraan, dan menyelamatkan dari pembicaraan yang tidak berguna, serta memberikan kewibawaan terhadap dirinya.”

6. Abu Hatim : “Lisan orang yang berakal berada di belakang hatinya. Bila dia ingin berbicara, dia mengembalikan ke hatinya terlebih dulu, jika terdapat (maslahat) baginya maka dia akan berbicara. Dan bila tidak ada (maslahat) dia tidak (berbicara). Adapun orang yang jahil (bodoh), hatinya berada di ujung lisannya sehingga apa saja yang menyentuh lisannya dia akan (cepat) berbicara. Seseorang tidak (dianggap) mengetahui agamanya hingga dia mengetahui lisannya.”

7. Yahya bin ‘Uqbah: “Aku mendengar Ibnu Mas’ud berkata: ‘Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya, tidak ada sesuatu yang lebih pantas untuk lama dipenjarakan dari pada lisan.”

8. Mu’arrifh Al-‘Ijli : “Ada satu hal yang aku terus mencarinya semenjak 10 tahun dan aku tidak berhenti untuk mencarinya.” Seseorang bertanya kepadanya: “Apakah itu wahai Abu Al-Mu’tamir?” Mua’arrif menjawab: “Diam dari segala hal yang tidak berfaidah bagiku.”

(Lihat Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhala karya Abu Hatim Muhamad bin Hibban Al-Busti, hal. 37-42)

Menjaga lisan jelas akan memberikan banyak manfaat. Di antaranya:

1. Akan mendapat keutamaan dalam melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Abu Hurairah Rad. meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6090 dan Muslim no. 48)

2. Akan menjadi orang yang memiliki kedudukan dalam agamanya.

Dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam ketika ditanya tentang orang yang paling utama dari orang-orang Islam, beliau menjawab : “(Orang Islam yang paling utama adalah) orang yang orang lain selamat dari kejahatan tangan dan lisannya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 11 dan Muslim no. 42)

Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali mengatakan: “Hadits ini menjelaskan larangan mengganggu orang Islam baik dengan perkataan ataupun perbuatan.” (Bahjatun Nazhirin, 3/8)

3. Mendapat jaminan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam untuk masuk ke surga.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda dalam hadits dari Sahl bin Sa’d : “Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang berada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku akan menjamin baginya al-jannah (surga).” (HR. Al-Bukhari no. 6088)

Dalam riwayat Al-Imam At-Tirmidzi no. 2411 dan Ibnu Hibban no. 2546, dari shahabat Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Barangsiapa yang dijaga oleh Allah dari kejahatan apa yang ada di antara dua rahangnya dan kejahatan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka dia akan masuk surga.”

4. Allah akan mengangkat derajat-Nya dan memberikan ridha-Nya kepadanya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda dalam hadits dari Abu Hurairah RA. : “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat dari apa yang diridhai Allah yang dia tidak menganggapnya (bernilai) ternyata Allah mengangkat derajatnya karenanya.” (HR. Al-Bukhari no. 6092)

Dalam riwayat Al-Imam Malik, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali dalam Bahjatun Nazhirin (3/11), dari shahabat Bilal bin Al-Harits Al-Muzani bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Sesungguhnya seseorang berbicara dengan satu kalimat yang diridhai oleh Allah dan dia tidak menyangka akan sampai kepada apa (yang ditentukan oleh Allah), lalu Allah mencatat keridhaan baginya pada hari dia berjumpa dengan Allah.”

Demikianlah beberapa keutamaan menjaga lisan. Semoga kita diberi kemampuan oleh Allah untuk melaksanakan perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya dan diberi kemampuan untuk mengejar keutamaan tersebut. Wallahu a’lam.

 

Bagaimana semestinya kita sikapi kehidupan itu …

Dalam agama Islam dibentang konsep yang tegas tentang apa sesungguhnya hidup dan kehidupan itu, kemana arah tujuannya, siapa yang bernama makhluk manusia itu?.

Wahyu Allah (Al Quran) dan Sunnah Rasul membimbing manusia dalam kehidupan, baik yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan-nya, hubungan manusia dengan manusia lainnya, hubungan dengan alam dan lingkungannya, melalui tiga pilar  yang saling berkaitan satu dan lainnya, yakni Islam, Iman dan Ihsan,  atau Aqidah, Syari’ah, dan Akhlaq. 

Tujuannya secara hakiki adalah : 1. Mengembalikan fitrah yang ada pada diri manusia. 2. Mengubah pengertian kepada pola pikir (fikrah), 3. Mengubah pola pikir menjadi aktivitas (harakah), 4. Mengubah aktivitas menjadi keberhasilan (natijah), 5. Mengubah keberhasilan menjadi tujuan (ghayah), 6. Mengubah tujuan menjadi mardhatillah. 

Dengan tiga pilar (Islam, Iman dan Ihsan) dibangun tata cara kehidupan dan bermasyarakat yang  memiliki ciri-ciri ; 1. Masyarakat yang berakidah Islamiyyah: Laa Ilaha Illallah – Muhammad  Rasulullah. 2. Masyarakat yang senantiasa melaksanakan segala kewajiban dengan mengacu kepada tuntutan Ilahi. 3. Masyarakat yang memiliki persepsi dan pola pikir yang Islami. 4. Masyarakat yang memiliki loyalitas terhadap ketentuan Islam. 5. Masyarakat yang memiliki akhlakul karimah. 6. Masyarakat yang menjunjung tinggi martabat manusia dan menghargai hak-hak asasi manusia. 7. Masyarakat yang memiliki solidaritas dan kepedulian sosial. 8. Masyarakat yang senantiasa menegakkan kebenaran dan keadilan; “Al-Amru bil ma’ruf wa nahyu ‘anil munkar”

Paradigma ini dibangun dari keberadaan Syari’at Islam yang menempatkan formulasi hukumnya atas dasar Teosentrisme Humanisme (Hablum Minallah wa Hablun Minannas), yang dipertegas bahwa membangun kualitas diri adalah wujud dari ketaatan orang Islam terhadap perintah Allah dalam bentuk ibadah mahdhah (pokok) dan huhungan erat dengan misi sosial yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, yaitu ukhuwwah dan kepedulian sesama demi terciptanya masyarakat sejahtera yang berkeadilan.

“ .. dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. ..  Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS.17 Al Isra’, ayat 26-27)

Manusia Beriman atau bertaqwa sesungguhnya adalah manusia yang memiliki kesadaran tauhid  yang amat tinggi. Kesadaran ketuhanan adalah kesadaran seseorang bahwa Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, senantiasa menyertai dan mengawasi hidup manusia, sehingga Allah bukan hanya Maha Hadir (Omni Present), tetapi juga Maha Dekat (In Manent). Kesadaran bertauhid inilah pangkal kebaikan dan pangkal moralitas. Tanpa kesadaran ketuhanan, tidak akan pernah ada taqwa atau ketaqwaan.

Dalam suatu hadist, Nabi SAW pernah menerangkan bahwa ;  « seseorang tidak akan mencuri, tidak akan korupsi, tidak akan berzinah, atau tidak akan melakukan tindak  kejahatan lainnya manakala ia beriman dan ingat kepada Allah Ta’ala … » (HR. Bukhari). Ini mengandung makna bahwa perbuatan dosa timbul dan terjadi karena kelalaian dan kealpaan manusia dari mengingat Allah SWT.

Sikap yang dibentuk oleh Iman adalah ; Berkelakuan baik, Penyayang dan penyabar, Berdisiplin, Bermasyarakat dengan baik, Amanah dan menunaikan janji, Suka menolong, Mempunyai arah hidup yang spesifik, Mempunyai syakhshiyah yang dihormati.

Semoga kita mampu menjadi umat yang berakhlaq dengan panduan iman dan taqwa.

Wassalam.

Kerangka Dasar Pembangunan RSI Ibnu Sina Yarsi Sumbar

KERANGKA DASAR BAGI PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGAN RSI IBNU SINA[1]

 SEBAGAI PROYEK PELAYANAN KESEHATAN UMMAT

           

 

Dalam tahun 1968 DR.Mohamad Natsir berkunjung ke Sumatera Barat atas undangan Yayasan Kesejahteraan. Waktu itu, Beliau mendapat kesempatan mengunjungi hampir seluruh Kabupaten di Propinsi Sumatera Barat dengan bantuan yang amat simpatik dari pihak Bapak Gubernur Harun Zein beserta Muspida Propinsi Sumatera Barat, dalam rangka kegiatan pembangunan lahir dan batin di Sumatera Barat.

            Diwaktu hendak kembali ke Jakarta, maka sebagai salah satu hasil pencernaan dari apa yang telah dapat di lihat, didengar dan dialami selama perkunjungan keliling itu, Beliau menyampaikan satu saran tertulis yang dialamatkan kepada Buya Dt. Palimo Kayo yang mengandung harapan kepada para alim ulama, yang dalam keadaan bagaimanapun tetap merupakan pemimpin-pemimpin alamiyah yang berurat berakar dalam kalbu masyarakat Minangkabau, bersama-sama dengan para cendikiawan didaerah kita ini, agar dimulai suatu percobaan untuk mendirikan sarana pelayanan kesehatan, walaupun dengan satu poliklinik yang kecil.

Yang kemudian bisa siharapkan dapat berkembang nantinya.

            Alhamdulillah, saran itu dapat disetujui oleh para ulama cerdik pandai dan para ahli serta pemuka-pemuka kaum ibu disini direstui oleh Bapak Gubernur Kepala Daerah, yang malah bersedia menjadi Pelindung bagi badan pelaksana, Yayasan Rumah Sakit Islam Sumbar.

Diwaktu itu keadaan di Minangkabau sendiri atau dirantau dan di daerah-daerah Indonesia pada umumnya amat sulit. Lebih-lebih sesudah kita menderita akibat-akibat dari pemberontakan PKI yang terkenal dengan Gestapu itu.

Walaupun bagaimana, para ulama beserta pemimpin-pemimpin dikalangan cerdik cendikiawan dengan “Bismillah” dan bertawaakal kepada Allah memulai usaha tersebut yang waktu itu dirasakan baru sama sekali.

Tidak seperti mendirikan sarana-sarana yang biasa kita garap seperti madrasah, rumah yatim, mesjid dan lain-lain.

Kita mulai melangkah dengan keyakinan akan kebenaran fiman Illahi yang berbunyi  :

 

           

 

            Yakni, barang siapa yang berjihad, bekerja sungguh-sungguh pada jalan Allah (dengan niat untuk mencapai keridhaan-Nya), maka Allah SWT akan menunjukan jalan (ditengah-tengah perjalanan nanti) mana arah yang mesti ditempuh untuk mencapai apa yang dicita-citakan.

Kita yakin bahwa Allah SWT tidak akan membiarkan mereka yang menegakkan ihsan berjalan sendirian, akan tetapi akan senantiasa beserta mereka.

Inilah sebenarnya modal kita yang hakiki.

Modal yang dihayati oleh para alim ulama kaum Ibu dan para cendikiawan kita semua, didaerah Minang ini.

Dalam arti material kita mulai dengan modal nol. Tetapi ternyatalah kebenaran Sunnah Illahi yang kita ingati pada waktu itu, sehingga sesudah berjalan sekian tahun, sekarang Ibnu Sina sudah berkembang sampai seperti yang sudah kita lihat dewasa ini.

Dalam pada itu, tiap-tiap perkembangan dan kemajuan membawa persoalan. Persoalan yang perlu kita pecahkan.

Makin kita mencapai kemajuan, makin banyak persoalanyang timbul, yang merangsang kita semua un tuk menjawab pertanyaan : Sekarang bagaimana lagi ?  what’s next ?

Untuk menjawab pertanyaan ini, maka perlulah sewaktu-waktu, ibarat kita seorang musafir, berhenti sejenak dalam perjalanan untuk membuat penilaian terhadap apa yang sudah kita kerjakan, menilai baik dan buruknya cara-cara yang sudah kita tempuh dan menilai hasil yang sudah kita capai, dan merintis jalan yang akan ditempuh.[2]

Kita mengadakan instropeksi terhadap diri kita sendiri secara obyektif, sesuai dengan ucapan Umar bin Khatab RA. :

 

Tulisan arab

 

 

 

 

           

Pemikiran Dasar Pembangunan

Rumah Sakit Islam Ibnu Sina

 

Uraian yang berikut mencoba menjawab pertanyaan, apakah pemikiran dasar atau motivasi yang mendorong pembangunan Rumah Sakit Islam IBNU SINA dan bagaimana mengarahkan pengembangan proyek amal ini selanjutnya.

Sebenarnya hal ini sudah kita sama-sama hayati semua dan senantiasa hidup dalam angan-angan dan cita-cita keluarga Yarsi dan Ibnu Sina, sambil kita melakukan tugas ditempat masing-masing.

Uraian ini adalah sekedar untuk merumuskan apa yang sudah sama-sama kita rasa itu dalam bentuk yang lebih konkrit yang dapat disempurnakan melalui pembahasan dalam rapat kerja kita ini.

Untuk ini saya bagi pembicaraan kita dalam tiga bagian :

1.     Dimana terletak urgensinya kita menegakkan amal shaleh di bidang pelayanan kesehatan.

2.     Bagaimana seharusnya Yarsi dengan Proyeknya Ibnu Sina menempatkan diri dan melancarkan kegiatannya didalam sitasi yang nyata di tanah air kita dewasa ini.

3.     Berdasarkan itu semua, apakah sifat-sifat yang umum dan khusus yang harus ditumbuhkan dan dipelihara dalam pembinaan Ibnu Sina selanjutnya.

 

— §§§ —

 

Urgensinya

 

I.     Negara kita adalah negara agraria, negara pertanian dan masuk golongan yang disebut negara sedang berkembang untuk tidak menggunakan kata terbelakang.

 

Negara kita dalah sebagian dari bumi yang indah dimana manusia diamanatkan untuk menjadi khalifah diatasnya dan kini didiami oleh 3.400 juta manusia. Kira-kira 75 % dari padanya mendiami daerah yang bersifata agraria yang sering mendapat malapetaka banjir dan penduduknya hidup dalam pemukiman seadanya. Semua itu memberikan gambaran yang cukup rawan.

Kemajuan ilmu dan teknologi tidak cukup mampu mamperbaiki nasib besar ummat manusia. Mungkin juga ilmu dan teknologi yang maju itu dikuasai oleh 25 % sisa ummat manusia yang mendiami negara-negara maju, yang kebanyankan tidak cenderung untuk memcahkan persoalan nasib ummat manusia di daerah-daerah terbelakang.

Akibatnya cukup menyedihkan.

Menurut statistik dari 1.000 anak dibawah uumur 1 tahun terdaspat kematian 100 – 150 orang anak. Lembaga WHO pada tahun 1971 mengeluarkan statistik tentang apa yang disebut (life expentancy) pulul maximal umur yang diharapkan di Afrika hanyalah 40 tahun, di Asia 50 tahun sedang di negara maju seperti Eropa dan Amerika 71 tahun.

Dari 3.400 juta manusia tersebut setiap tahunnya terdapat kelahiran sejumlah 120 juta. Kira-kira 84% dari seluruh kelahiran tersebut terjadi di negara-negara berkembang itu. Disini pulalah terdapat angka kematian yang cukup tinggi tadi itu.

Pola penyakit di negara yang sedang berkembang seperti di negara kita ini mempunyai pola penyakit yang sama. Penyakit infeksi dan kurang gizi menurut statistik menempati tempat teratas diantaranya penyakit menular yang mengganas secara bergelombang (epidemi). Kalau kita pelajari laporan-laporan dari WHO, maka 80% dari penduduk daerah agraria itu belum pernah tersentuh oleh pelayanan kesehatan modern.

Seorang pejabat tinggi Departemen Kesehatan kita menerangkan di Indonesia keadaanya sedikt lebih baik, yakni hanya 75% saja penduduk yang belum tersentuh oleh teknologi kedokteran.

Menurut tradisi yang sudah berlaku semenjak puluhan tahun, kita disis vberpegang pada sisten pelayanan kesehatan dengan menitik beratkan pada pelayanan di rumah sakit. mUlai dari rumah saklit di Kabupaten kemudian rumah sakit Propinsi sampai ke rumah sakit nasional. Bila semuanya itu digarap maka akan menelan baiya 50% dari anggaran kesehatan nasional. Itupun berarti bahwa pelayananya hanya dinikmati oleh kira-kira 20-25% penduduk kota saja. Demikianlah sistem panggarapan secara tradisional.

Kita sekarang berada diambang pintu cara penggarapan atau pendekatan yang baru.

Para cendikiawan kita dibidang kedokteran sadar bahwa jika pendekatan klinis semata-mata yakni yakni menitik beratkan pada pelayanan rumah sakit, maka itu bukan saja mahal, akan tetapi hanya mampu untuk melindungi penduduk yang jumlahnya terbatas.

Sekarang ini para cendikiawan dibidang kesehatan mulai merintis pendekatan yang lebih comprehensif atau menyeluruh, dengan istilah tehnisnya disebut pendekatan “hollistik”. Sering juga disebut pendekatan “semato-phiko-sosial”. Yang menjadi titik perhatian dalam sistem ini bukan semata-mata physik manusia saja akan tetapi juga diperhatikan segi kejiwaannya dan juga fungsi manusia sebagai anggota masyarakat.

Kita mengakui bahwa untuk meningkatkan kesehatan ummat (bangsa) kita, kita harus memperhatikan unsur-unsur lingkungan, lingkungan sosial, linkungan bilogis, lingkungan physik, kulturil dan lain sebagainya.

Sebagai akibatnya maka kita harus tidak puas dengan semata-mata mengadakan pusat-pusat pelayanan kesehatan di kota-kota besar atau setengah besar yang bersifat statis untuk melayani pasien-pasien yang datang. Kita harus mendekati tempat beradanya para penderita sedekat mungkin, yang tempatnya bertebaran di “pedalaman”, serta meningkatkan dinamika dalam cara-cara bekerja sambil menggali dan memamfaatkan potensi lingkungan baik dalam rupa tenaga manusia ataupun unsur almiah.

Dapat kiranya dipahamkan bahwa sistem pembanguna puskesmas-puskesmas kesehatan Ibnu Sina-nya. Dalam rangka partisipasi sebagai swasta dibidang pelayanan kesehatan, dari semula Rsi Ibnu Sina secara intuitif, pada hakekatnya, telah mengatur kegiatannya sesuai dengan ide pendekatan hoolistik itu. Demikianlah Yarsi Sumatera Barat tidak memusatkan kegiatannya semata-mata pada memperlengkap dan menyempurnakan polikliniknya menjadi satu rumah sakit yang komplit dan serba lengkap lebih dulu. Dengan tida menunggu lama-lama Yarsi mendekati ummat yang perlu ditolong dengan mengadakan balai-balai kesehatan berturut di Padang, Padang Panjang, Payakumbuh, Kampar dan Panti.

Saya katakan secara intuitif, oleh karena diwaktu itu kita belum pernah mendengar istilah-istilah hollistik ataupun istilah semato-phyki-sosial atau lainnya.

Paling banyak kita didorong oleh keinginan hendak melayani sesama manusia yang menderita dan berada dalam keadaan lemah sesuai degan pesan Rasullulah SAW.:

 

Tulisan arab

 

            “Kamu hanya kakan mendapat kejayaan apabila kamu mampu membina kekuatan ummat yang lemah diantara kamu”, (Al-Hadist)

 

Sedangkan para dhua’fa itu berada kebanyakan diluar kota, tidak terjangkau oleh pusat pelayanan kesehatan dikota-kota itu.

Walaupun bagaimana, kita bersyukur bahwa Yarsi Sumatera Barat dengan Proyek Ibnu Sinanya telah dapat menyumbangkan daya baktinya kepada Allah SWT, dan daya khidnmatnya kepada sesama manusia dalam rangka pembangunan negara dan bangsa kita ummumnya.

 

II.       Dalam pada itu ada satu sifat khas dari usaha kita        ini.

 

 

Bayak yang bisa jadi motif bagi orang mendirikan suatu lembaga atau sarana termasuk sarana rumah sakit.

Adapun tujuan Yarsi dan Ibnu Sina tidaklah berhenti pada usaha menyehatkan orang yang sakit sevcara individuil. Yarsi meemhamkan proyek Ibnu Sinanya itu sebagai alat untuk Pembinaan ummat (bangsa) pada umumnya.

Dengan proyek ini kita menumbuhkan  :

a.     Rasa tanggung jawab dikalangan ummat kita terhadap kesejahteraan bersama dalam rangka menunaikan fungsi sosial.

b.     Menumbuhkan kepercayaan kepada kekuatan sendiri dalam memenuhi keperluan-keperluan sesama, tanpa diskriminasi.

c.      Memperkembang daya cipta dan daya inisiati untuk merintiskan usaha-usaha baru meningkatkan kesejahteraan kita lahir dan bathin, meningkatkan mutu hidup kita (qualiti of life, kata orang sekarang).

 

 

Dalam rangka ini keluarga Yarsi dan Ibnu Sina harus merasakan dirinya sebagai suatu kelompok kekeluargaan didikat oleh cita-cita bersama, sebagai pendukung atau mission satu risalah untuk menegakkan kalimah Illahi dalam pembinaan ummat, bangsa dan negara.

Mereka menyadari bahwa proyek-proyek yang didirikan adalah amanah Ilahi untuk realisasi risalah yang demikian itu.

Dalam rangka memegang amanah ini Keluarga Besar Yarsi/Ibnu Sina, melaksanakan pembinaan dalam dua jurusan. Jurusan keluar dan jurusan kedalam.

 

Pembinaan keluar

Ummat, ditengah-tengah mana proyek itu ada, haruslah merasaka bahwa proyek itu adalah milik mereka pula dan turut bersama-sama bertanggung jawab untuk kelestarian hidup sarana-sarananya, baik proyek induk ataupun cabang-cabangnya. Untuk menumbuhkan rasa turut memiliki atau partisipasi dari ummat sekitar kita, maka atas keluarga Yarsi dan Ibnu Sina terpikul untuk senantiasa mengadakan komunikasi dengan ummat sekitarnya bukan saja semata-mata dalam perawatan sisakit yang datang untuk dirawat di klinik atau kamar-kamar perawatan.

Komunikasi yang demikian perlu dimulai dari semenjak akan mendirikan  sarana physik berupa gedung dan lain-lainya, besar atau kecil.

Kita harus mengikut sertakan mereka dalam memikul beban pembangunan, baik dengan berupa mengumpulkan dana, tenaga dan bahan-bahan walaupun masing-masingnya sesuai menurut kekuatan masing-masing pula.

Sebaiknya kita menjadikan cara-cara kita kerja pada permulaan dulu menjadi tradisi yaitu menggerakkan potensi material dan bahan-bahan dengan menjual kupon yang harganya sesuai dengan kemampuan jemaah kita yang awam. Sekalipun kita andaikata mempunyai sumber yang lain yang lebih besar entahkan dari Pemerintah atau dari para ruhsinin yang lebih berada, akan tetapi potensi lokal jangan lupa kita menggerakkannya sebab inilah yang akan merupakan akar agar sarana yang kita bangun dapat tegak dengan stabil.

Bukan itu saja, proyek yang sama dibangun dan dikembangkan dengan tenaga dan kegiatan ummat itu bersama-sama proyek itu sendiri, sebabnya membangun dan menyusun ummat, amenjadi ummat yang lebih sadar, yang menyadari cita-cita hidup (purpose of life), ummat yang menyadari kekuatan sendiri, ummat yang menghayati identitasnya dan tanggung jawabnya terhadap Allah SWT dan sesama manusia.

Sesuai dengan Risalah atau missie kita, pembinaan ummat dengan sarana pelayanan kesehatan ini, dan sesuai dengan ide pendekatan hollistik  yang kita kemukakan tadi, maka Ibnu Sina perlulah menggiatkan ummat disekitarnya sendiri  agar aktif menjaga kesehatan, agar jangan sampai sakit.

Sebagaimana kita ketahui, ajaran agama kita sendiri mendidik sebagai muslim dan muslimah supaya menegakkan hygiene dalam kehidupan sehari-hari. Kepada kita diajaarkan bahwa kebersiahan itu sebagian dari iman :

 

Tulisan arab

 

Kepada menunaikan ibadah shalat kita yang lima waktu itu dikaitkan perintah mengambil wudhu, mandi, membersihakan gigi. Kita diperintahkan agar senantiasa menjauhkan diri dari makanan yang membahayakan kesehatan.

Dinilah bertemu para  medici dengan bidang para da’I dan guru agama, bertemu  rumah sakit dan poliklinik dengan mesjid dan madrasah.

Apa yang lebih logis bagi keluargaa Ibnu Sina, dari pada mengadakan kerja sama yang erat dengan para pemimpin informal di daerah agraria itu membentuk kader kesehatan, dalam rangka mengjidupkan apa yang disebut “community medicine” atau “desa sehat” berlandaskan “keluarga-keluargga sehat”, yakni dengan menumbuhkan auto-aktivitas dari masyarakat sendiri.

Ini adalah sesuai dengan risalah pembinaan ummat yang kita kemukakan diatas tadi (a, b, dan c).

 

Pembinaan Kedalam

 

Untuk dapat menjalankan missinya dengan efektif, tak dapat tidak Ibnu Sina mengadakan pembinaan kedalam tubuh Ibnu Sina sendiri. Yaitu :

Secara kontiniu meningkatkan keterampilan tenaga-tenaga pelaksana Ibnu Sina.

a.     dibidang teknis medis.

b.     dibidang management

c.      dibidang komunikasi, baik dengan para pasien yang dilayani ataupun dengan masyarakat pada umumnya.

 

Untuk itu perlu kita sediakan sarana-saranan dan fasilitas untuk mencapai maksud tersebut.

Maka adalah kewajiban dari Yarsi dan Ibnu Sina bersama-sama menyusun dan melaksanakan  program pembinaan tenaga pelaksana dalam jangka pendek dan jangka panjang.

Sarana-sarana physik yang terdiri dari besi dan tembok, sekalipun indah tampaknya, tidak akan berarti banyak, bila tidak dimamfaatkan oleh tenaga-tenaga yang tepat dan cakap.

Termasuk kepada usaha pembinaan kedalam adalah, Pembinaan Ruhul Islam pada setiap unsur yang terlibat dalam sistem pelayanan kesehatan RSI Ibnu Sina. Untuk itu perlu dikembangkan pembinaan baik secara kurikuler dalam pendidikan formal, maupun dalam bentuk pendidikan non formal. Pendidikan tersebut hendaknya menuju kepada tujuan,  agar dicapai dokter muslim, para medik uslim dan karyawan muslim pada seluruh eselon dan bidang kepegawaian. Dokter muslim, para medik muslim dan karyawan muslim hendaklah diartikan sebagai seorang yang punya ilmu dan keterampilannya itu sesuai dengan Islam. Prinsip uswatun hasanah haruslah diterpkan bukan hanya dalam kehidupan  pribadinya, tapi terlebih lebih lagi dalam lingkungan hubungan antara setiap unsur dalam unit pelayanan kesehatan.

*  *  *

Khulhasah

 

Dapat kita simpulkan sbb:

 

1.      Yang menjadi titik tolak kita membangun proyek Ibnu Sina ini, ialah untuk menunaikan kewajiban fardhu kifayahsebagai Muslimin dan Muslimah guna mencapai kehidupan ummat yang sehat jasmani, rohani dan kehidupan sosialnya dengan tuntunan agama kita.

Dari segi ini ia merupakan salah satu dari proyek da’wah pembinaan ummat.

 

2.      Ibnu Sina tidak bekerja secara ekslusif, menyendiri. Ia berkhidmat terhadap sesama manusia tanpa diskriminasi, seolah-olah ia berkata melalui kegiatannya : “Ini amalan kami, adapun hasilnya adalah untuk kita”.

Dari segi ini dia bersifat sumbangan dari ummat Islam dalam rangka pembangunan Bangsa dan Negara. Boleh dinamakan sebagai sarana dalam perlombaan dengan sesama warga negara dalam menegakkan kebajikan.

RSI Ibnu Sina serta balai-balai Kesehatan yang dibinanya dikembangkan sebagai satu sistem pelayanan kesehatan yang merupakan bagian dari sistem pelayanan nasioanal.

 

3.      RSI Ibnu Sina dikembangkan demikian rupa sehingga dia mampu selain sebagai rumah sakit umum yang memenuhi persyaratan, tapi sekaligus dia menjadi refferal atau tempat rujuk, pemulangkan persoalan bagi semua balai-balai kesehatan yang dibinanya, serta menjadi refferal pula bagi balai-balai kesehatan, Rumah Bersalin atau Unit-unit Pelayanan Kesehatan lainnya baik yang dibina oleh pemerintah maupun swasta lainnya dilingkungan Sumatera Barat dan sekitarnya. Peranan ini jelas dimaksudkan bahwa RSI Ibnu Sina tidak bersifat eksklusif hanya untuk ummat tertentu saja, tapi harus terbuka seluas-luasnya bagi setiap warga yang memerlukannya.

 

4.      Sesuai dengan pendekatan hollistik, maka hendaklah diusahakan agar unit-unit pelayanan kesehatan dikembangkan demikian rupa, sehingga berada sedekat mungkin dengan ummat yang memerlukannya.

 

5.      Dalam prakteknya perlu diingat bahwa RSI Ibnu Sina serta cabang-cabangnya adalah pembinaan manusia seutuhnya, yang berati tidak hanya membinan kesehatan jasmani pasien-pasien saja, tapi juga membina kehidupan rohaniyah dalam hal ini kehidupan keagamaan si pasien dan masyarakat lingkungannya sedemikian rupa sehingga tujuan pelayanan kesehatan bersifat pelayanan menyeluruh (total care) benar-benar dapat diujudkan sepenuhnya.

 

Demikianlah hendaknya, semoga Allah SWT senantiasa melapangkan jalan usaha kita ini dan menerimanya sebagai ‘amal shaleh jua adanya. Amin.

 

 

Padang, 6 Rajab

               1 Juli  1979 M

 

 

 

 


[1] Disampaikan oleh Bapak DR. Mohamad Natsir Di Padang, 1 Juni 1979,  sepuluh tahun setelah RSI Ibnu Sina diresmikan pada 10 Oktober 1969.

[2] Maka pertemuan kita sekarang ini, Raker YARSI Juni 1979 adalah merupakan pelaksanaan dari pada satu bagian dari pada sistem kerja kita yang patut dijadikan kebiasaan untuk selanjutnya, agar usaha kita ini mencapai hasil yang lebih baik dari yang sudah-sudah.

Langkah Awal Membangun Ruymah Sakit Islam Ibnu Sina Yaarsi Sumbar di Bukittinggi

Langkah Awal Membangun 

Rumah Sakit Islam Ibnu Sina

Yarsi Sumatera Barat

Catatan H. Mas’oed Abidin

 

Suatu lembaga seperti Rumah Sakit Islam Ibnu Sina sebagai proyek umat senyatanya tiang-tiangnya telah dipancangkan para perintis.

Sejak langkah awal sejarah berdirinya telah menempuh perjalanan berliku. Para perintis dan pemrakarsa dalam mewujudkan usaha besar dan mulia ini, telah melalui bermacam rintangan pula.

Tentu saja bukti yang terserak dibekas perjalanan sejarah berdirinya  tidak bisa dilupakan begitu saja.

            Amatlah penting untuk menyadari bahwa lembaga ini umurnya akan lebih panjang dari usia para perintis-nya. Ini telah terpateri menjadi cita-cita pertama, agar proyek umat ini  dapat hidup sepanjang masa.

Walau di karenakan perputaran masa, dan sudah menjadi sunnatullah buya-dan-helva-zaharakan selalu pula berpindah tangan dari generasi demi generasi.

Namun, tidak pula mustahil disatu waktu, maksud dan tujuan pertama dari para pejuang perintisnya dapat saja tersimpangkan.

Karena itu, hubungan kelembagaan di antara badan-badan yang erat terkait oleh gerak dan gita serta  menjadi cikal bakal lahirnya Rumah Sakit Islam ini, tidak boleh terlupakan. Baik itu secara di sengaja maupun tidak.

Setiap pengelola disepanjang masa, mestilah menyesuaikan pola pengembangan aplikatif dengan benang hijau yang mempertemukan nawaitu gagasan pemikiran perintis pendiri dan blue print. Zaman selalu bisa berubah, musim boleh saja berganti. Landasan idiil yang menjadi pendorong berdirinya rumah sakit ini, telah berumur lama sekali, yaitu berurat kehati umat dalam menuju Redha Allah.

 

 

 

 

 

 

 

Pesatnya

Gerakan Missi Baptis

 

DR. Mohamad Natsir sejak 1962 berada dalam karantina politik Orde Lama. Di tahun 1967 barulah dibebaskan.

Langkah pertama yang dilakukan oleh para pemimpin umat adalah memulai gerak baru dengan  mendirikan Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia di Jakarta. Dewan Dakwah ini bermarkas di Masjid Al-Munawwarah Kampung Bali I Tanah Abang. Untuk meluaskan geraknya, dengan membentuk perwakilan-perwakilan di seluruh Propinsi di Indonesia.

            Selama Juni-Juli 1968, Bapak DR. Mohamad Natsir berkunjung ke Ranah Minang yang disambut oleh seluruh lapisan masyarakat Sumatera Barat. Beliau dipanggil dengan sebutan “ Orang Tua Kita “.

Selain rindu mengunjungi kampung halaman yang memang sudah lama terpaksa dipisahkan dari kehidupan oleh dinding karantina, maka Bapak DR. Mohamad Natsir pulang ke Sumatera Barat, waktu itu, adalah atas undangan Gubernur Harun Zain.

Tugas yang diemban, menghidupkan kembali jiwa umat dengan membangun kampung halaman.

Pada kesempatan ini diresmikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Perwakilan Sumatera Barat, yang untuk pertama kalinya berkantor di Masjid Nurul Iman Padang. Peresmiannya dilaksanakan pada 15 Juli 1968   di Gedung Nasional Bukittinggi.[1]

Kunjungan ke Padang ini, juga ditujukan untuk meninjau perkembangan Yayasan Kesejahteraan yang Beliau gerakkan dari balik dinding Karantina. Disamping untuk bersilaturrahmi langsung dengan masyarakat Sumatera Barat. Yang paling utama adalah memulai langkah baru membangun kembali daerah ini. Merapatkan kembali jama’ah untuk menghadapi hari depan Umat Islam di Ranah Minang ini.

Sumatera Barat di kala itu, terutama Bukittinggi sedang gigih bergerak menentang berdirinya Rumah Sakit Baptis di Bukittinggi.

Usaha Yayasan Baptis ini di mulai dengan membeli tanah di Parak Tinggi diantara Kampung Aur Kuning dan Ateh Tambuo.[2]

Missi Baptis mengkampanyekan di luar negeri melalui penerbitan buku kecil berjudul “ My Land of Sumatera “. Usaha missi Baptis digagalkan oleh Ninik Mamak Kampung Tarok dengan memegang tangan pemilik tanah. Tapi mereka tidak berhenti.

Usaha Baptis ini berpindah dari Ateh Tambuo ke Parak Kongsi di desa Bukit Apit Puhun.

Kemudian di kampung Mandiangin, lanjut keluar angin di tepi jalan ke Bukit Ambacang.

Semuanya dapat digagalkan oleh kesatuan gerak, Alim Ulama dan pemuka masyarakat Bukittinggi.

Sementara itu Misi Baptis sudah  pula membuka Poliklinik dengan menyewa sebuah rumah di Kampung Mandiangin yang ramai dikunjungi masyarakat karena layanannya dengan biaya yang murah.

Layanan Misi Baptis di poliklinik ini diserta dengan meletakkan buku-buku saku kecil kutipan Alkitab, ajaran Kristen Baptis. Upaya ini dimaksudkan, untuk dibaca sambil menunggu, dan dianjurkan untuk boleh dibawa pulang oleh pasien yang dating berobat.

Gerakan missionaris ini tercermin pada Anggaran Dasar Yayasan Baptis tersebut antara lain bahwa usaha sosial kemanusiaan ini adalah dalam rangka penyebaran Injil ke daerah ini.

Majelis Ulama Sumatera Barat yang lahir di Masjid Jamik Birugo, sebagai kelanjutan dari Majelis Ulama Kota Bukittinggi mencoba sekuat daya memberikan pengertian kepada masyarakat, untuk selalu harus berhati-hati terhadap upaya pemurtadan yang dilakukan pihak zending ini. Disusul kemudian dengan meminta kepada Pemerintah supaya izin mendirikan Rumah Sakit Baptis (Rumah Sakit Immanuel) ini tidak diberikan.

Kecemasan terhadap gerakan Rumah Sakit Missi Baptis ini, juga menyebabkan Bapak DR. Mohammad Natsir, sekembalinya dari kunjungan keliling di Sumatera Barat menuliskan sepucuk surat kepada para ulama.

Sesampai Beliau di Jakarta, menulis pula sepucuk surat yang di alamatkan kepada Buya H. Fachruddin Hs Datuk Majo Indo.[3]

Diantara isi surat itu Bapak DR. Mohamad Natsir menuliskan beberapa catatan selengkapnya sebagai berikut;

            Dalam perjalanan saya berkeliling di Sumbar ada satu hal yang menarik perhatian saya, tetapi waktu itu tak ada kesempatan bagi saya  untuk memikirkannya lebih mendalam, apalagi untuk membicarakannya dengan taman-teman kita secara bertenang.

                Oleh karena itu baiklah saya tuliskan, agar dapat dipikirkan bersama diantara teman-teman kita yang akrab, yang bertanggung jawab (“bakorong-ketek”).

1.       Ada persoalan rumah-rumah rakyat, yang sedang ditempati oleh anggota tentara.

Rakyat meminta rumah-rumah mereka kembali.

Terutama di Agam.

2.       Pihak Pemerintah bukan tidak mau mengembalikan akan tetapi, kemana anggota tentara akan ditempatkan, oleh karena belum ada asrama.

Bukan pula tidak mau mendirikan asrama, akan tetapi biaya pembangunan tidak ada.

3.       Akibatnya : Pihak masyarakat merasa tidak puas oleh karena didesak oleh soal-soal sosial, seperti soal keluarga yang hendak pulang dari rantau, soal anak kemanakan yang hendak dikawinkan, dan hal-hal semacam itu yang menghendaki perumahan”.

 

Mengenai pergerakan Missi Baptis ini, diingatkan bahwa zending ini  tidak berdiri sendiri.

 

Gerakan ini merupakan mata rantai panjang dari satu Gerakan Kristenisasi Internasional. Di dukung oleh dana dan program rinci.

Berupa wabah Pemurtadan.

 

Maka usaha yang dilakukan oleh masyarakat Bukittinggi dan Sumatera Barat menjadi sangat penting.

 

Mengharapkan dari pemerintah saja rasanya tidak cukup. Terbukti Surat Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia No.54 tahun 1968, tidak diacuhkan oleh misi Kristen di Indonesia.

Artinya keputusan pemerintah ini tidak dianggap oleh pihak Kristen sesuatu yang mestinya dipatuhi.

Maka, kekuatan umat perlu digalang dalam membentengi diri dan kampung halaman, agar tepian orang Minang tidak sempat hanyut.

 

Mengenai usaha kristenisasi dari missi Baptis ini, Bapak DR.Mohammad Natsir menulis sebagai berikut;

 

Di Bukittinggi ada agen dari missie asing Baptis, yang mempunyai banyak uang.

Bisa mendirikan sekolah, rumah sakit, gereja, asrama, apa saya.

Dan taktik-srategi yang mereka tempuh sekarang ini, dalam kampanye Kristianisasi mereka dimana-mana, tentu juga di Sumbar ini, ialah menggunakan keunggulan mereka dibidang materie dan alat-alat modern itu, untuk mendapatkan satu basis operasi mereka ditengah-tengah umat Islam.

Apalagi di tempat yang “strategis”, seperti ditengah-tengah masyarakat Aceh, masyarakat Bugis, masyarakat Kalimantan, masyarakat Pasundan dan masyarakat Minang dengan “adat nan basandi syara’- syara’ basandi Kitabullah” itu.

 

Dalam rangka ini mereka akan selalu melakukan segala macam daja upaya, secara gigih. Tidak bosan-bosan, dan tidak malu-malu.

 

Apabila mereka mengetahui bahwa ada suatu kesulitan sosial ekonomis seperti itu, mereka tak akan ragu “mengulurkan tangan” untuk “memecahkannya”. Asal dengan itu mereka mendapat basis yang permanen, untuk operasi mereka dalam jangka panyang.

(Bak Ulando minta tanah !).

 

Untuk ini mau saja apa yang dikehendaki.

-         Mau rumah sakit?

      Mereka bikinkan rumah sakit yang up-to-date.

-         Mau asrama?

      Mereka bikinkan.

-         Mau kontrak atau perjanyian yang bagaimana?

      Mereka bersedia teken…

Dipulau Sumba rakyat memerlukan air.

Pemerintah belum sanggup mengadakan jaringan irigasi dan saluran air minum. Mereka bangun jaringan irigasi dan saluran air minum itu.

Di Flores rakyat menghajatkan benar hubungan antara pantai ke pantai, sedangkan pemerintah belum sanggup memenuhi keperluan rakyat itu?

   Mereka adakan hubungan itu dengan kapal motor-motor kecil.

Memang Flores, Sumba dan Timor (Kupang) merupakan satu mata rantai yang penting sekali dan satu rantai yang membelit dari Pilipina (Katholik). Manado, Toraja, Ambon, dan Nusatenggara Timur.

Demikian pula di sebelah Barat rentetan pulau-pulau di Lautan India sebelah Barat Sumatera Barat, Mentawai sampai ke Lampung.

Akan tetapi semua kegiatan mereka dalam menyempurnakan rantai ini dan menumbuhkan basis-basis ditengah-tengah kepulauan Sumatera, Jawa, dan Kalimantan dilakukan dengan mengatas namakan  peri-kemanusiaan semata-mata dan membantu membangun “Indonesia yang modern”.

 

Saya kuatir, kalau-kalau mereka sudah berpikir kearah itu, dalam rangka mencari jalan lain, setelah rencana yang semula sudah terbentur.

Kalau mereka berfikir dan melangkah kearah itu maka mereka akan dengan sekaligus bisa memperoleh posisi yang lebih kuat dari yang telah sudah.

 

Mereka akan dapat meng-adu golongan-golongan yang tidak setuju dengan :

a.     Keluarga-keluarga yang ingin lekas rumahnya di-kembalikan.

b.     Pihak Tentara (Pemerintah) yang ingin lekas memecahkan soal asrama.

c.      Golongan-golongan dalam masyarakat yang ingin mendapatkan tempat berobat yang moden, lebih modern dan rapi, daripada rumah sakit pemerintah yang sudah ada di Bukittinggi sendiri.

Mereka ini akan bertanya-tanya kenapa kita harus menolak satu amal dari Baptis itu, yang ingin membantu kita secara cuma-cuma?

Bukankah itu fanatik namanya?

Akibat-akibatnya akan timbul lagi pergolakan antara pro dan kontra dalam masyarakat Minang.

Ini akan melumpuhkan kembali semangat  pem-bangunan yang sudah ada sekarang ini, semangat keseluruhan.

Keputusan Menteri Agama No. 54 tahun 1968 itu, mendasar sekali sikap tidak-setujunya  terhadap pen-dirian rumah sakit Baptis itu, atas kekuatiran akan timbul pertentangan.

Pertentangan antara golongan-golongan agama di Sumbar, yang dapat mengganggu ketertiban dan keamanan, apabila rumah sakit Baptis itu diteruskan mendirikannya.

Akan tetapi sebenarnya, sebelum itupun, per-tengkaran antara pro dan kontra sudah akan bisa meng-ganggu apa yang disebut ketertiban dan keamanan itu. Sekurang-kurangnya banyak yang bertubrukan. Banyak perasaan yang akan tersinggung. Banyak emosi yang akan berkobar.

Sekali lagi.

Ini semua akan melumpuhkan semangat pem-bangunan Minang secara keseluruhan yang berke-hendak kepada ketenteraman jiwa dan kebulatan hati.

Alangkah sayangnya !

Baru melangkah, ka-tataruang pulo !….

            Bapak DR. Mohamad Natsir mengarahkan agar umat melakukan berbagai upaya secara nyata, melalui perkuatan hubungan kerja sama dalam mengangkat amal yang baik.

Menyatukan visi dan aksi antara masyarakat dan pemerintah.

Tidak semestinya masyarakat digiring melawan kepada pemerintah. Bapak DR. Mohamad Natsir diantaranya menuliskan arahan Beliau [5]

Bagai mana caranya, mengelakkan musibah ini?

 

Saya pikir-pikir ini bisa, apabila kita menghadapi ketiga-tiga persoalan itu secara integral, yaitu soal:

a.     Rumah masyarakat yang sedang ditempati oleh anggota tentara,

b.     Soal asrama untuk tentara,

c.      Soal kekurangan Rumah Sakit yang bermutu lebih baik.

 

Yaitu dengan menjadikan pembangunan asrama tentara, dan mendirikan Rumah Sakit Islam.

Atau setidaknya peningkatan mutu Rumah Sakit Bukittinggi sebagai “proyek bersama antara pemerintah dengan masyarakat”.

 

Sepintas lalu memang “aneh” kedengarannya.

 

Tapi apabila yang aneh ini kita laksanakan akan besar sekali manfaatnya.

 

Dalam arti politis kita dapat menunjukkan bahwa kita dapat mempererat hubungan antara pemerintah dengan rakyat atas dasar yang sehat dan menghilangkan kesan bahwa kita hanya bisa menolak saja akan tetapi juga sanggup menunjuk-kan jalan alternatif yang lebih baik.

Dari sudut sosial kita dapat mengatasi kesulitan daripada sebagian masyarakat kita yang memerlukan sangat rumah mereka kembali.

Dari susut membentengi Agama dengan itu kita dapat lebih tegas dan radikal mengatakan kepada missie-missie asing itu :

                “Kami orang Islam tidak memerlukan tuan-tuan datang kesini”.

 

Haraplah hal ini dicoba bersama-sama dipikirkan.

 

Mungkin move yang “aneh” ini tidak akan begitu aneh, bila kita memperhatikannya. Bagaimana Dandim Padang umpamanya dapat membuka kunci hati dan kekuatan rakyat untuk meringankan beban pembuatan parit pantai laut, dengan bantuan batu dan pasir.

Bagaimana viaduct Saruaso dapat dibangun dengan ongkos yang jauh lebih murah daripada kalkulasi secara modern, dan bagaimana Bupati Pasaman bisa menyelenggarakan kurang lebih 80 proyek irigasi dan sebagainya, dan sebagainya…

Bisakah, sekarang umpamanya kita meminta kepada Penguasa (Militer dan Sipil) di Sumbar, untuk merencanakan berapa biaya yang diperlukan untuk asrama tentara itu menurut kalkulasi yang normal. Yakni asrama yang mencukupi syarat. Walapun tidak semewah yang mungkin akan ditawarkan oleh Baptis itu.

Berapa prosenkah kiranya yang dapat dicarikan oleh Pak Gubernur Sumbar sebagai sumbangannya Pemerintah Tingkat – I untuk maksud tersebut.

Sesudah itu berapakah kiranya yang dapat di-kumpulkan secara suka rela dari masyarakat, berupa sumbangan bahan-bahan dan tenaga? Kemudian restan kekurangannya, dipintakan dari Hankam Pusat di Jakarta.

Kata orang yang tangannya sudah berisi lebih tajam.         Begitulah diantara jalan pikiran Bapak DR. Mohamad Natsir untuk dijalankan di Sumatera Barat. Tujuannya sangat jelas membangun dengan berurat kehati umat.

 

            Suatu kelaziman semata didalam perjalanan sejarah, bila bertemu dua kepentingan, akan melahirkan setuju atau menolak. Bahkan kesetujuan atau ketidak-setujuan itu tidak selamanya pula berada dalam satu kerangka yang sama.

            Namun, keteguhan prinsip dalam menghadapi para penggerak dan pendukung gerakan Kristenisasi, merupakan sesuatu yang tak boleh ditawar-tawar.

Menentang gerakan Kristenisasi, bukan sebuah kemasan agama Islam semata. Tetapi, lebih didorong oleh kesadaran dan kecintaan warga masyarakat yang menjadi anggota suatu negara.

Gerakan kristenisasi, melalui pemaksaan dan bujukan agama ini seharusnya dilihat sebagai bahaya yang dapat mengundang pertentangan dikalangan masyarakat bawah.

Ujungnya bermuara kepada hancurnya kesatuan dan persatuan dikalangan warga negara Republik Indonesia.

Atau sisi lain yang paling berbahaya, adalah hilang kepercayaan masyarakat kepada penguasa.

 

Bapak DR. Mohamad Natsir memang dikenal sebagai pemimpin umat yang bila mengerjakan sesuatu tidak pernah setengah-setengah. Sinyalemen ini terbaca dari peristiwa yang berkembang di Jakarta, sesuai berita yang disampaikan Bapak Buchari Tamam kepada Panitia Pengambil Inisiatif Badan Pembangun Rumah Sakit Islam Sumatera Barat Bukittinggi [6].

 

Diantara lain, “ Bapak DR. Mohamad Natsir sendiri telah pula mencari hubungan langsung dengan orang-orang di kedutaan Amerika yang langsung pula akan menghubungkan beliau dengan wakil Baptis untuk Indonesia di Jakarta.

Bapak DR. Mohamad Natsir dalam hal ini menitik beratkan kepada masalah sikap seorang warga Amerika kebetulan jadi zending Baptis, yang mencoba merayu seorang alat negara Republik Indonesia (dalam hal ini seorang Komandan Korem) untuk melawan kepada putusan pemerintah tertingginya (dalam hal ini Menteri Agama dengan keputusannya melarang pembangunan rumah sakit/gereja Baptis di Bukittinggi). Jadi hal ini dibawa kebidang politik, dimana yang jadi sasaran utamanya ialah Baptis.

Dengan arti, supaya hindarkan menjadi Korem itu menjadi lawan kita, bahkan kalau dapat dicoba menyelamatkannya sehingga dapat kita rangkul kembali.

Sesuai dengan surat-surat Bapak DR. Mohamad Natsir selama ini.[7]

 

Masalah Baptis adalah masalah umat dan Ranah Minang. Sejak lama daerah ini menjadi incaran dari gerakan kristenisasi.

Suatu obsesi kalangan Kristen ialah menguasai Ranah Bundo ini.

Bila Ranah Minang dapat di masuki, maka berartilah seluruh Indonesia sudah dikuasai.

 

”Setelah memperhatikan perkembangan terakhir di Sumbar yang mengenai Baptis, maka:

 

1.       Pelu kita sadari bahwa keputusan Menteri Agama No. 54 adalah didasarkan kepada konsederans sbb :

“……..bila pelaksanaan Pendirian Gedung Rumah Sakit Baptis di Bukittinggi diteruskan akan menimbulkan pertentangan golongan Agama yang dapat mengganggu ketertiban dan keamanan umum” (lihat surat keputusan Menteri Agama No. 54/1968 tgl 23 Maret 1968).

Bapak DR.Mohamad Natsir memberikan catatan khusus dalam surat itu, antara lain[8]

Hendaknya jangan di-tengah jalan kita mengelak sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan bahwa soalnya bukan kita dengan Baptis, akan tetapi soal Menteri Agama dengan Korem, sehingga persoalan-nya menjadi kabur.

Sebagaimana terang sasaran utama ialah Missi Asing Baptis itu sendiri yang menjadi biang keladi dari semua kesulitan.[9] ,

 

Dalam hal ini, maka adalah kewajiban kita di Bukittinggi sekarang ini memberikan dekingan yang kuat kepada Menteri Agama Republik Indonesia.

Dengan segala macam bukti, suara dan perbuatan. Hangat-hangatkan masalah ini selalu.

Karena itu “jangan kita memindahkan sasaran dari Baptis kepada pihak lain

 

Menurut penyelidikan, Baptis itu bukan anggota Dewan Gereja Indonesia (DGI). Mereka berasal dari Amerika Serikat sebelah Selatan dan dikalangan organisasi missi asing terkenal sebagai satu kelompok missi yang suka bekerja secara yang tidak wajar didorong fanatismenya.[10]

 

Syukurlah adanya keputusan dari rapat tgl 29 Juli 1968 di Bukittinggi antara ketua-ketua Parpol/Ormas-ormas Islam, BKUI dan lain-lain, yang sudah menghasilkan tiga keputusan itu. Ini agak memperkuat kembali kedudukan Menteri Agama.[11]

            Menduduki Ranah Minang oleh pihak agama lain selalu akan diawali dengan menghancurkan atau setidak-tidaknya melemahkan peranan dari adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.

 

Inilah yang disampaikan oleh Bapak Bukhari Tamam kepada HMS.Tuanku Suleman.[12]

                “Setelah dibaca berulang-ulang dialog antara Buya H. Dani cs dengan Korem timbullah suatu perasaan dan pengertian dari kami seakan-akan dalam persoalan ada kemunduran sikap dan pendirian dari pihak kita terhadap kebijaksanaan selama ini dalam menghadapi beleid Korem itu.

Seakan-akan dari pembicaraan Buya H. Dani Cs itu terhadap kebijaksanaan Korem yang lama ini, yang jadi penantangnya ialah rakyat banyak – sejak dari alim ulama, DPRGR, Ninik mamak – ternyata tidak disebut-sebut lagi, dan yang ditonjolkan hanyalah keputusan Menteri Agama, sehingga ada penanggapan seakan Menteri Agamalah yang jadi penantang kebijaksanaan itu berdasarkan gugatan-gugatan rakyat sebagai yang dihebohkan selama ini.

Hal ini perlulah dipahami benar-benar, karena salah-salah mengeluarkan pendapat nantinya barisan kita bisa jadi berantakan.

 

Pergeseran situasi dari penjelasan ini, bisa menyebabkan nantinya Menteri Agama menyorotkan pandangan pertanyaan, yang menyebabkan beliau jadi merobah penilaian terhadap Ranah Minang.

Dianjurkan supaya masyarakat dan para pemimpin di Ranah Minang agar selalu menjaga kompas pendirian menurut garisnya.

Karena, seluruh rakyat menentang dan kegiatan Baptis di Sumatera Barat (Bukittinggi).

Tantangan ini disampaikan secara berjanjang naik bertangga turun sampai kepada Menteri Agama.

Berdasar suara itu demi keamanan dan kerukunan umat maka Menteri Agama mengeluarkan keputusan”[13].

Pokok soal disini adalah rakyat yang menolak Baptis dan sikap ini harus terus dijalankan, tidak boleh dikendorkan, tidak boleh di-annemer-kan kepada Menteri Agama dan lain-lain, tetapi harus tetap bernyala dalam dirinya sendiri.

Mungkin karena kekendoran inilah agaknya Korem dapat menyakinkan Panglima Kodam bahwa suara yang menolak Baptis ini hanyalah dari segelintir manusia saja, sehingga Panglima ikut-ikut pula memberi izin Baptis itu”.

 

 

 

 

 

 

 

 

Surat Kecil Bapak DR. Mohamad Natsir

Dalam suatu percakapan antara H.M.S. Datuk Tan Kabasaran dengan Bapak DR. Mohamad Natsir di tengah perjalanan ke daerah Tanjung Raya (Maninjau). Beliau mengatakan bahwa kalau begini caranya ulama-ulama Sumatera Barat menentang kegiatan misi Baptis ini, satu waktu nanti umat banyak ini akan berhadapan dengan Engku-engku para ulama.

Karena umat melihat dan merasakan bahwa Baptis itu melakukan perbuatan baik, mereka menolong orang yang sakit.

Untuk ini ulama-ulama dan pemuka-pemuka masyarakat Sumatera Barat perlu membuktikan pula usaha dakwah biliasanil-hal seperti rumah sakit itu.

Sesampai di Sungai Batang, sedang istirahat di rumah Wali Nagari Sungai Batang, Ismail (dikenal dengan panggilan Uo Maca), maka engku Datuk Tan Kabasaran memohon supaya Bapak DR. Mohamad Natsir berkenan menuliskan apa yang Beliau katakan itu.

Untuk nantinya bisa disampaikan pula kepada para ulama, pemimpin umat yang patut-patut.

Segera Beliau suruh penulis meminjam mesin tulis Pak Wali Nagari. Dan meminta pula selembar kertas. Beliau imlakkan (diktekan) sepucuk Surat Pendek yang Beliau alamatkan kepada pemuka-pemuka masyarakat di Sumatera Barat.

Surat ini kelak yang mendorong para ulama, pemuka masyarakat untuk mengambil sikap dan arah yang tepat dalam menghadapi misi Baptis ini. Surat itu  selengkapnya sebagai berikut;

Bukittinggi, 2 Juli 1968

 

Kepada :

Jth. Engku2 Alim-ulama dan

Pemuka2 masyarakat Islam

Di

                Sumatera Barat.

 

Assalamu’alaikum w.w.

 

Dengan hormat,

                Menurut hemat saya, bahwa usaha menghadapi tantangan yang sudah semakin berat terhadap ‘aqidah Ummat Islam, terutama di Sumatera Barat ini, tidak mencukupi lagi kalau hanya dilakukan dengan cara-cara sebagai selama ini.

                Kalau cara gerak itu tidak segera kita robah dengan membuat amal-amal yang nyata, seperti mendirikan sebuah rumah sakit Islam didaerah ini, dan yang semacam itu, maka suatu kali ummat ini akan menghadap kepada kita sendiri.

                Baiklah pemikiran kearah usaha ini engku-engku mulai, insya’Allah pekerjaan itu nanti kita hadapi bersama-sama.

                Mudah-mudahan Allah S.W.T akan membukakan jalan untuk kita. Amin.

 

                                                                                W a s s a l a m,

                                                                                        Dto,

                                                                   ( M. Natsir)

 

 

 

Lembaga Kesehatan Dakwah

Surat kecil yang diberikan Bapak DR. Mohamad Natsir penulis sampaikan kepada Buya Haji Mansur Daud Datuk Palimo Kayo, untuk dipikirkan bagaimana realisasinya.

Bapak DR. Mohamad Natsir sendiri di Jakarta selalu menghidupkan dan mengokohkan kesepahaman masyarakat Minang dalam menerima gagasan untuk melanjutkan cita-cita agar dapat diwujudkan segera sebuah Rumah Sakit Islam di Bukittinggi Sumatera Barat.

Diantara pesan Bapak DR. Mohamad Natsir kepada Buya Datuk ditulis sebagai berikut; “Adapun panitia proyek rumah sakit diteruskan juga. Proyek ini lebih “flexible”. Bagi kami di Jakarta akan lebih mudah membantu proyek rumah sakit dari pada merintiskan jalan untuk asrama.

Apalagi dengan dijadikannya Bukittinggi sekarang ini sebagai salah satu pusat pemberantasan T.B.C, dengan alat-alat yang modern, dan tambahan tenaga-tenaga dokter, maka dalam soal perawatan orang sakit kita akan dapat bernafas agak lega. Pendeknya, harapan kami, ialah cobalah saudara-saudara kita di Sumbar mempertimbangkan dan menjelajahi persoalan ini dengan teliti dan bijaksana. Saya ingin sekali mendengar pertmbangan-pertimbangan Saudara tentang ini. Walaupun sekedar akan melepaskan was-was……….”[14].

 

Disamping maksudnya untuk mengantisipasi gerakan missionaris Baptis yang sudah merambah Ranah Minang, juga dalam membuktikan bahwa masyarakat kita mampu berbuat. Dengan amal nyata ini, masyarakat Minang mampu membuktikan diri bukanlah rumpun suku yang banyak ota. Seperti banyak dituduhkan orang selama ini. Melalui ini terangkat harga diri Ranah Minang.

                Selanjutnya Buchari Tamam menuliskan; [15]

“Bapak (maksudnya Bapak DR. Mohamad Natsir,pen.) garuk-garuk kepala membaca penjelasan dan agak cemas akan akibatnya. Di Jakarta benar-benar soal ini diurus dengan serius, sampai kepada sikap yang konkrit yaitu untuk mendirikan Rumah Sakit Islam itu sehingga telah dapat diraih tenaga-tenaga sebagai yang telah dilaporkan selama ini.”

Dalam berita yang dikirim Bapak Buchari Tamam kepada Panitia Pengambil Inisiatif Badan Pembangun Rumah Sakit Islam Sumatera Barat Bukittinggi d/a Sdr. TSM Said Di – Bukitinggi [16], terungkap bahwa di Jakarta cita-cita pembangunan Rumah Sakit Islam ini disambut antusias.

                “Masalah pembangunan rumah sakit Islam di Bukittinggi sebagai yang jadi cita-cita disini sungguh-sungguh mendapat perhatian masyarakat Minang di Jakarta.

Pak Natsir dalam hal ini menumpahkan perhatian dan kegiatan yang sungguh-sungguh.

Beliau telah menghubungi Menteri Agama yang kemudian disusul lagi oleh Pangdak Pak Adam.

Keterangan beliau-beliau itu sama betul.

Dan bagi Menteri Agama masalah ini disambutnya dengan serius sekali pula. Kabarnya beliau telah menghubungi Hankam.

 

Selanjutnya dalam surat itu juga dituliskan antara lain; “Kemudian garaplah usaha  kearah terwujudnya Rumah Sakit Islam dengan sungguh-sungguh.

Dalam hal ini saya sempat bicarakan juga dengan saudara Dr.Sabaruddin Abbas di Airport Tabing yang telah menyediakan diri untuk itu.

Hubungilah dengan sebaik-baiknya.

Begitu juga dengan Walikota Bukittinggi.

                Sebentar ini akan menulis surat ini, Yayasan Kesejahteraan barusan mengadakan rapat masalah Rumah Sakit Bukittinggi itu menjadi acara yang serius sekali. Ada beberapa putusan, baik sekali untuk mendorong saudara-saudara”.

 

                Sepeninggal Bapak DR. Mohamad Natsir kembali ke Jakarta, dalam suatu pertemuan terbatas di atas Surau Inyik Jambek. 

Dibentuk suatu badan yang diberi nama “Lembaga Kesehatan Dakwah“.

Tujuannya untuk mewujudkan usaha kesehatan dalam rangka Dakwah Islamiyah di Sumatera Barat ini.

Lembaga Kesehatan Dakwah dibentuk dengan pengurus terdiri dari :

Ketua             :   Buya H.M.D.Dt. Palimo Kayo.

Wkl. Ketua    :   Buya H. Anwar.

Sekretaris     :   M.S. Tk. Sulaiman.

Anggota :

M. Bakri Dt. Rajo Sampono

Baharuddin Kari Basa

Hasan Basri Sulthany

Naimah Jambek

H. Syarifah

           

            Beberapa kali badan ini mengadakan rapat-rapat di Surau Inyik Jambek dan di rumah Haji Mansur Daud Datuk Palimo Kayo, membicarakan bagaimana meng-usahakan berdirinya satu Rumah Sakit Islam di daerah ini. Berkenan dengan telah lahirnya badan ini, Bapak Buchari Tamam menuliskan suratnya antara lain[17];       Jadi dengan sendirinya, pekerjaan ini haruslah dihadapi sungguh-sungguh di Bukitinggi.

Tentulah dalam pekerjaan panitia atau badan yang permanen untuk ini apa sebagai perwakilan Yarsi dan lain-lain – saudara-saudara akan mendudukkan teman-teman kita yang betul-betul dapat bertekun untuk ini dengan minat dan bakatnya yang betul menjurus kearah masalah kesehatan,

Sebagaimna pengolahan terhadap soal-soal politik diurus pula oleh teman-teman seperti diatas sebagai dilaksanakan oleh saudara H. Anwar sekarang, dalam mengolah perkembangan politik.

Mudah-mudahan panitia sementara Lembaga Kesehatan Da’wah pimpinan H. Anwar yang telah sampai beritanya kepada kami dapat mewujudkan formasi sebagai diatas yang menjadi harapan teman-teman dan pemimpin-pemimpin yang meminati soal ini di Jakarta.

Seimbang hendaknya pengolahan antara masalah politik dengan masalah sosial ini, yang masing-masing tentu tergenggam ditangan yang terpisah pula.

            Dalam beberapa kali rapat itu, hanya satu yang dapat diputuskan bahwa “Perlu dibangun sebuah Rumah Sakit Islam dalam rangka Dakwah Islamiyah”.

Di Jakarta memang sudah berdiri Yayasan Rumah Sakit Islam (YARSI) Jakarta dibawah pimpinan Dr.Ali Akbar, Dr.Ahmad Kusnadi, dan lain-lain.

Setelah melakukan pembicaraan-pembicaraan, dirasakan sekali perlunya ada tenaga Ahli yang akan menggarap secara Tehnis, apalagi untuk berkonsultasi dengan Pemerintah Daerah dan badan-badan lain.

Akhirnya Lembaga Kesehatan Dakwah menulis surat kepada Bapak DR. Mohamad Natsir, meminta supaya dikirim seorang tenaga ahli untuk menggarap usaha besar ini.

Untuk memudahkan jaringan yang sudah ada, Bapak DR. Mohamad Natsir dari awalnya mengikutkan pihak Yarsi Djakarta dalam memberikan sumbang pikiran. Hal ini terbaca dalam surat Bapak Buchari Tamam, antara lain; Kemarinnya, juga Pak Natsir dan kawan-kawan telah menemui Dr. Ali Akbar dan teman-temannya dari Yayasan Rumah Sakit Islam (Yarsi).

Mereka semua sudah menyatakan kesediaannya untuk membantu usaha kita ini dengan sungguh-sungguh.

Dengan kapal Batanghari besok akan kemari saudara Eziddin sebagai utusan dari Jakarta, untuk menemui saudara-saudara dalam rangka Rumah Sakit ini.

Pengurus Yarsi tidak keberatan kalau nama Yarsi dipakai disini sebagai mendirikan perwakilan atau cabang di Bukittinggi. Pendeknya saudara-saudara usahakanlah sungguh-sungguh segala sesuatu yang dibuat disini, untuk antara pemancing perhatian dari perantauan. Kirimilah kami selalu perkembangan hal ini walaupun kecil,untuk bahan penggarapan kami di Jakarta. Wassalam, Buchari Tamam [18]

Segeranya Bapak DR. Mohamad Natsir mengirim Bapak Ezzeddin SH. ke Padang, dengan tugas-tugas menyambung tangan Lembaga Kesehatan Dakwah, membangun Rumah Sakit Islam di Sumatera Barat.

Sesampainya Bapak Ezzeddin, SH. di Sumatera Barat dari Jakarta, setelah lebih dahulu berkonsultasi dengan Lembaga Kesehatan Dakwah di Bukittinggi, yang oleh Lembaga diserahkan usaha ini sepenuhnya kepada Bapak Ezzeddin, SH.

Bapak Buchari Tamam, selaku sekretaris Dewan Dakwah menuliskan surat kepada Bapak Ezzeddin SH selaku Panitia Persiapan Lembaga Kesehatan Dakwah Sumatera Barat. Surat tersebut, berisikan beberapa informasi dan tindakan yang perlu disegerakan dalam mewujudkan Rumah Sakit Islam Sumatera Barat ini,antara lain ;[19]

Semalam tanggal 1 Agustus 1968 malam bertempat di rumah Pak Natsir telah berlangsung satu pertemuan untuk membicarakan sekitar kemungkinan pembangunan Rumah Sakit Islam di Bukittinggi.

Tampaknya hadir antara lain dalam rapat tersebut Dr. Halim, Dr. Asri Rasad, Dr. Hasnil, Dr. Jurnalis Uddin, Komodor Drs. Muhamad Kamal Apotik Guntur, Adnus Apotik Pancoran, Juniar Zainal Zein Apotik Santa, Dr. Rasidin, SM Sjaaf, Dra. Kartini, Rustam Gani, SH dan lain-lain.

Rapat dipimpin langsung oleh Pak Imam (Bapak DR.Mohamad Natsir,pen.) sendiri.

Dari kalangan pemuka Kurai hadir engku Datuk Asjrul Sjamsuddin.

Sesudah melakukan pembicaraan dan penilaian terhadap perkembangan di Bukittinggi, maka kesimpula-nya setuju semua anggota rapat untuk ikut mengolah kemungkinan berdirinya sebuah Rumah Sakit Islam di Bukittinggi.

Bahkan Dr. Rasidin mengusulkan supaya yang dibuat di Bukittinggi itu Rumah Sakit Islam Pusat.

Dengan arti harus ada sambungannya untuk mencapai radius yang lebih jauh.

Dengan menyarankan rumah sakit pusat ini mempunyai klinomobil yang dapat melakukan operasi keluar kota Bukittinggi sehingga dapat mencapai jarak yang lebih jauh.

Untuk ini maka dibentuklah dua panitia kecil masing-masing:

1. Panitia teknis yang akan memikirkan dan merumuskan daftar usaha sampai kepada teknik pelaksanaannya yang terdiri dari saudara Dr. Hasnil, Dr. Asri Rasad dan Dr. Jurnalis Uddin. Panitia ini akan mengadakan sidangnya pada tanggal 14 Agustus yang akan datang.

2. Panitia dana yaitu yang akan memikirkan bagaimana dapat mengumpulkan bantuan berupa uang dan alat-alat, obat serta yang lain-lain, yang terdiri dari saudara Drs. Komodor M. Kamal, Adnus dan Juniar Z. Zen. Panitia kecil ini akan berapat tanggal 21 Agustus yang akan datang. Kedua panitia ini dibawah pimpinan Pak Imam (Bapak DR. Mohamad Natsir) langsung.

Bapak Prof. DR. Bahder Djohan yang dalam rapat tersebut tidak bisa hadir karena kesehatan, menyampaikan bahwa, dia tahu benar rencana Pak Dr. Mohamad Djamil, almarhum, memang dijuruskan kesini dulunya, kepada suatu rumah sakit yang lengkap dan modern. Mungkin – kata beliau – Sitawar Sidingin itu telah berisi pula dengan instrumen yang lengkap karenanya beliau menyarankan bagaimana kalau Sitawar Sidingin ini diambil over dan dilanjutkan pelaksanaan cita-citanya. Kalau perlu dengan peng-gantian harga – katanya. Mengenai ini, maka teman-teman meminta kiranya Kanda Ratnasari akan dapat melakukan penjelajahan lebih dahulu dengan mengirim kabar bagaimana hasilnya.”

                Dengan keinginan dan pengertian yang sama antara Bapak Ezzeddin, SH dan pimpinan BKPUI, maka cita-cita bersama mendirikan Rumah Sakit Islam ini menjadi cita-cita bersama dan diusahakan bersama.

Dengan pedoman itu, Beliau rintis usaha ini di Padang, pertama sekali berunding dengan Badan Kontak Perjuangan Umat Islam (BKPUI) Sumatera Barat.

BKPUI, adalah suatu badan independen yang lahir sebagai tuntutan zaman menyambut orde baru. Suatu himpunan dari segenap organisasi Islam yang anti komunis di Sumatera Barat. Badan yang memiliki keinginan besar membangun Ranah Minang. Memiliki visi yang sama mengangkat harga diri Sumatera Barat dan diketuai oleh Bapak Hasnawi Karim.

Dorongan semangat selalu menyertai para pengambil inisiatif di Sumatera Barat, baik datangnya dari perantauan, diantaranya dari Bapak DR.Mohamad Natsir ; “Tentang usaha kami di Jakarta untuk menyantuni persiapan rumah sakit Islam di Bukittinggi sudah ditulis oleh Sdr. Buchari, 3 hari yang lalu dikirimkan dengan kapal terbang, tentang hasil usaha kami itu, Isya Allah dalam waktu yang singkat kami akan kabarkan lagi. Sekianlah. Wassalam, Moh. Natsir[20].

Dari keterpaduan ini lalu diadakan kontak dengan Pemerintah Daerah, Bapak Gubernur Sumatera Barat bersama Muspida, dengan Jawatan Kesehatan dan dengan pengusaha-pengusaha yang akan men-dukung cita-cita ini.

 

Yayasan Rumah Sakit Islam Sumatera Barat

Hasil usaha pendekatan-pendekatan ini didapat-lah kesepakatan untuk mendirikan Yayasan Rumah Sakit Islam Sumatera Barat ( YARSI SUMATERA BARAT ), selanjutnya didirikan dihadapan Notaris Hasan Qalbi di Padang pada tanggal 31 Januari 1969.

Akta Nomor 20 dengan pendiri :

ü Ezzeddin, 

 

 

               

 

 

 

 

 

 


[1] Sekarang Gedung DPRD Kotamadya Bukittinggi.

[2] Sekarang dijadikan Kampus Fakultas Hukum Muhammadiyah di Bukittinggi.

[3] Buya Fachruddin Hs.Datuk Majo Indo, adalah salah seorang dari pengurus Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Perwakilan Sumatera Barat yang baru diresmikan 15 Juli 1968 di Bukittinggi. Surat Bapak DR. Mohamad Natsir kepada Buya Datuk Majo Indo, bertarikh Jakarta 20 Juli 1968. (Dokumentasi, yang diserahkan oleh Buya Datuk Majo Indo kepada penulis).

 

[4] Ibid. surat Pak Natsir kepada Buya Fachruddin Hs. Dt.Majo Indo,  Jakarta tgl.20 Juli 1968.

[5] Ibid. surat tgl.20 Juli 1968.

[6] Surat Bapak Buchari Tamam kepada Panitia Persiapan tgl.28 Juli 1968.

[7] Peristiwa ini nampaknya mungkin berlarut-larut, tertimbang kepada sikap Pangabean yang dengan tiba-tiba memindahkan Poniman ke Ambon, menempatkan kepala staf kodam III seorang Kristen, dan panglimanya seorang perwira dari Diponegoro.

Kelanjutannya dari kebijaksanaan Poniman menyerahkan masalah ini ke Jakarta juga bisa berpanjang-panjang pula, sebab kalau hal ini diserahkan ke Panglima AD, yang menyambutnya Pangabean seorang Kristen yang sangat setia kepada agamanya, dan kalau diserahkan kepadan HANKAM yang akan menyambutnya Letnan Jenderal Kartakusuma seorang perwira Islam yang baik pula.

 

[8] Kata Bapak DR. Mohamad Natsir, “Hal ini saya telah minta perhatian dalam surat saya tgl 23 Juli yang lalu dalam pasal II. Ini berarti bahwa apabila tidak ada lagi tantangan dari masyarakat sendiri terhadap rencana Baptis itu maka gugurlah alasan bagi keputusan itu. Oleh karena itu perlu dijaga supaya jangan tibul kesan bahwa soal ini adalah soal Menteri Agama sendiri.

Jadi kata-katanya yang tercantum dalam penjelasan Pak H. Anwar cs tgl 27 Juli itu dalam pasal II seperti :

“..maka persoalan uang terjadi sekarang bukan persoalan Alim-Ulama dan Ninik-mamak lagi, tetapi adalah persoalan Militer (Korem 032) dengan keputusan Menteri Agama Republik Indonesia di Jakarta”.

Ucapan macam itu sebenarnya melemahkan posisi Menteri Agama dalam persoalan ini.

[9] Ibid. Makna dalam surat Bapak DR. Mohamad Natsir tgl. 23 Juli 1968. Dalam surat itu saya (DR. Mohamad Natsir, pen.) juga sarankan supaya antara lain kita baiknya mengatakan terus terang kepada Baptis supaya dia membatalkan rencananya sama sekali. Terserahlah kepada pertimbangan teman-teman disini apakah langkah itu baik untuk dikerjakan atau tidak,

[10] Kutipan surat Bapak DR. Mohamad Natsir kepada Pak Dt. Panglimo Kayo, Mak Angku (MS.Tuanku Suleman, pen.), Sdr. Eziddin, Kak Ratna dkk, Di Padang, tanggal Jakarta 12 Agustus 1968

[11] Bapak DR. Mohamad Natsir berharap keputusan-keputusan tersebut beserta konsederans dan penjelasannya dikirimkan langsung dengan pos kilat tercatat kepada K.H.A. Dachlan Menteri Agama Republik Indonesia di Jakarta, tembusannya kirimkan kepada saya (Bapak DR.Mohamad Natsir,penulis). Apakah keputusan itu sudah disiarkan di surat kabar? Kalau sudah harap surat kabarnya kirimkan dua lembar.

[12] Surat Bapak Bukhari Tamam dari Jakarta 9 Agustus 1968 kepada HMS Tuanku Suleman (Datuk Tan Kabasaran). Dokumentasi penulis.

[13] Sesudah keputusan Menteri Agama maka Baptis telah membujuk seorang alat negara untuk membuat kebijaksanaan yang bertentangan dengan keputusan Menteri Agama itu sehingga terjadilah adanya seorang perwira menentang putusan pejabat tertinggi.

[14]   Surat Bapak DR. Mohamad Natsir kepada Buya Datuk Palimo Kayo, isi dan redaksinya sama seperti yang dibuat Beliau kepada Buya Fachruddin Hs. Datuk Majo Indo. Sama-sama asli, dengan tanggal yang sama, Jakarta 20 Juli 1968, namun alamatnya berbeda. (Dokumentasi pada penulis).

[15] Ibid.

[16] Surat engku Buchari Tamam dari Jakarta, tgl.28 Juli 1968.

[17] Surat Bapak Buchari Tamam tgl. 8 Agustus 1968 kepada M.S.Tuanku Suleman.

[18] Surat tanggal 18 Juli 1968.

[19] Kutipan surat Bapak Buchari Tamam kepada Bapak Ezziddin SH, Panitia Persiapan Balai Kesehatan Dakwah Sumatera Barat d/a. MS.Tuanku Suleman dan Rky.Ratnasari di Padang, pada tanggal 8 Agustus 1968

[20] Kutipan Surat Bapak DR.Mohamad Natsir, ditujukan kepada Buya Datuk Palimo Kayo, MS.Tuanku Suleman, MR.Ezziddin, dan Rky. Ratna Sari, di Padang, tanggal 12 Agustus 1968.

Membangun dimulai dari masyarakat bawah

Membangun

Dari Masyarakat Bawah

Dihimpun oleh H. Mas’oed Abidin

 

           

            Orang biasa membangun masyarakat desa yang pada umumnya berada dalam alam “statis-tradisionil” itu dengan bermacam-macam cara.

            Ada yang mau cepat menggunakan regimentasi yakni dengan pengerahan dengan komando seperti sistem komando di RRC.

            Ada yang dengan tak sabar, mendrop ke dalam masyarakat desa yang tak punya modal itu, uang ratusan juta rupiah atas dasar kredit. arnussa-1427-037

            Ada yang mau lekas-lekas, secara mendadak, supaya masyarakat desa menggunakan hasil-hasil teknologi yang modern.

       Tujuannya ialah ; “mempertinggi produksi sandang pangan”.

       Caranya; ” modernisasi secepat mungkin, di segala bidang”.

       Kita sudah lihat bagaimana hasilnya :

       ·     Dengan regimentasi, masyarakat desanya lumpuh

       ·     Dengan menempakan kredit sebanyak mungkin, masyarakat desa terlibat hutang yang tak terbayar.

       ·     Dengan mekanisasi yang dipaksa-paksakan, alat-alatnya jadi “besi tua”.

            Sebabnya ialah; seringkali orang lupa, dalam suasana keranjingan cepat mencapai daya guna/efisiensi, dengan apa yang disebut modernisasi, dan teknologi modern, orang lupa kepada unsur manusianya.

            Berilah modal kepada orang yang belum pernah melatih diri membina modal sendiri dengan susah payah, modal itu akan hancur.

            Berilah secara mendadak hasil teknologi modern berupa teori dan mesin-mesin modern, kepada orang yang masih hidup dalam alam fatalisme dan segala macam tahayul yang tradisionil, mereka akan bingung dan patah semangat.

2.    Dalam usaha ini, kita akan menghadapi bermacam-macam persoalan yang harus diatasi.

       Antara lain ;

       Bila berbicara tentang “pembinaan kesejahteraan” dalam arti materiel kita tidak terlepas dari pada satu undang-undang baja ekonomi bahwa kita harus meningkatkan produksi di bidang apapun namanya entah di bidang sandang ataupun pangan.

       Produksi tidak dapat tidak menghendaki modal.

       Yang dimaksud dengan modal sebagai unsur produksi adalah persediaan alat penghasil yang dihasilkan (stock of produced means of production), misalnya gedung-gedung, pabrik-pabrik, mesin-mesin, alat perkakas, dan persediaan barang yang semuanya diperlukan untuk proses produksi.

       Fungsi uang dalam rangka ini adalah sebagai alat penukar, pembeli alat-alat penghasil itu.

       Pembentukan modal dapat dilakukan, apabila dari hasil produksi tidak semuanya dihabiskan tetapi disimpan, lalu digunakan untuk produksi selanjutnya.

            Dengan lain perkataan; apabila masyarakat dapat membatasi “konsumsi sekarang“, guna memperoleh hasil yang lebih banyak pada masa yang akan datang. Di sini kita akan menjumpai lingkaran yang tak berujung berpangkal. Yaitu : apabila hasil produksi yang disimpan besar, maka pembentukan modal akan bertambah besar pula.

            Bagaimana pentingnya penumpukkan modal bagi suatu masyarakat yang ingin memperkembangkan ekonominya, dapat kita rasakan bila kita melihat lingkaran yang sebaliknya.

            Yaitu: taraf penghidupan rendah, hanya sedikit, atau tidak sama sekali, membukakan kemungkinan untuk menyimpan. Ini mengakibatkan kita sedikit, atau tidak sama sekali dapat memupuk modal ini, juga mengakibatkan hasil produksi kecil tak mungkin mengadakan penyimpanan dan taraf hidup merosot, dan ekonominya tak mungkin berkembang.

            Jadi ditinjau secara ekonomis, di samping kesanggupan dan kesediaan untuk bekerja keras, rajin dan cermat, ada dua hal yang tidak dapat tidak harus dilakukan oleh suatu masyarakat yang ingin memperkembangkan ekonominya dari taraf yang rendah, ialah :

       a.    memulai dengan kesanggupan dan kesediaan untuk hidup dengan berhemat untuk dapat memupuk modal.

       b.    menghindarkan segala macam pemborosan, dan memberantas segala bentuk pemborosan itu.

            Sering persoalan yang tumbuh, bagaimana  membawa umat desa kepada kemampuan dan kebiasaan untuk “menyimpan” sebagian dari hasil produksinya guna “pembentukan modal”.

            Dan mengajarkan agar supaya mereka dapat menghindarkan pemborosan-pemborosan (waste).

            Alhamdulillah masyarakat Minang tidak banyak unsur non ekonomis yang berakibat pemborosan besar-besaran. Tidak ada umpamanya masalah sacred cow dan sacred monkey seperti di India.

            Rakyat Hindu  mayoritas berkepercayaan bahwa sapi suci tak boleh disembelih[1].

Demikian pula, kepercayaan terhadap “monyet” atau “kera” sebagai binatang suci, sehingga perkembang biakannya menjadi gangguan besar dan menimbulkan kerugian bagi perkebunan, namun begitu  monyet tersebut tidak boleh dibunuh. Para sarjana Ekonomi India dan pemimpinnya menyadari betapa besarnya “economic waster” yang ditimbulkan, akan tetapi sampai sekarang belum mau mengatasinya[2].

            Kepercayaan yang hidup dalam masyarakat seperti ini merugikan Gross National Produkct (GNP) India, dan merintangi pemupukan modal.

            Di Indonesia kita tidak menjumpai masalah-masalah seperti tersebut di atas. Di Pulau Bali, di mana mayoritas rakyatnya beragama Hindu-Bali, tidak ada masalah sacred cow ataupun sacred monkey. Malah sapi Bali terkenal sebagai sapi sembelihan, dan di Bali sendiri ada Canning Industry, yang menghasilkan Corned Beef.

            Adapun di alam Minangkabau, kepercayaan atau adat istiadat yang mengakibatkan pemborosan (waste) besar-besaran boleh dikatakan tidak ada [3].

            Namun masih ada kemungkinan dari wabah masyarakat, yakni penyakit adu untung, atau per-judian massal dalam bermacam-macam bentuknya, seperti hwa-hwe, toto kuda dan lain-lainnya, yang meruntuhkan akhlak dan menghisap modal dari proses produksi dan pasar dagang ke meja perjudian itu, dengan segala akibat-akibatnya.

            Inilah yang sangat perlu diawasi.

           

Idea atau pemikiran tersebut telah dituangkan dalam banyak pesan sejak dari balik dinding penjara atau ditanah pengasingan di Batu Malang sedari tahun 1963.

Dalam bentuk upaya menciptakan sebuah produk kerajinan kecil (handycraft) dalam mensayarakat yang dinilai dan dikenal saat ini sebagai satu desa satu produk hasil, atau one village one product yang dilaksanakan berdasarkan pola pengembangan ekonomi masyarakat kecil di Jepang, dan telah menjadi  salah satu bentuk pemberdayaan rakyat kecil (people empowerment) yang menjadi tiang proses kompetisi perekonomian dunia saat ini. Dalam menghadapi perkembangan era globalisasi.

 

Memang sudah sejak lama sarana pembinaan anak yatim melalui panti-panti asuhan menjadi perhatian dari Badan-badan Dakwah Islam di tanah air.

Sungguhpun sampai sekarang Dewan Dakwah sebagai Yayasan tidak atau belum mempunyai panti asuhan anak yatim secara khusus.

Hal ini tidaklah berarti bahwa Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia melupakan pembinaan anak yatim.

Usaha ini dilakukan secara posi­tif dengan berbagai gerak antara lain melakukan kerja sama dengan berbagai lembaga-lembaga dakwah dalam dan luar negeri.

Upaya yang dilakukan diantaranya untuk memberikan bantuan bea siswa terhadap anak-anak yatim, serta mencarikan Bapak angkat yang akan meng-kafil (membiayai) anak-anak yatim yang berprestasi.

Juga mendirikan bangunan darul aitam antaranya bangunan Panti Asuhan Putera Bangsa Yayasan Budi Mulia Padang yang dilengkapi dengan sembilan lokal ruang belajar dan satu asrama bertingkat aitam yang dimulai pembangunannya pada tahun 1992.

Kemudian pada bulan September 1997 ditanda tangani piagam kerja sama pembinaan anak yatim tersebut antara Dewan Dakwah dengan Yayasan Budi Mulia di Padang. Masih berkaitan dengan pembinaan anak yatim ini maka  Dewan Dakwah secara intensif tetap berusaha kearah penyediaan dana abadi yang secara jangka panjang mampu membiayai keperluan-keper­luan anak yatim. Tentu, yang sangat mendesak terarah kepada anak-anak yatim yang berada di bawah Kafil Aitam Dewan Dakwah.

Mulai Agustus 1996 dicoba mengusahakan ladang pembenihan bibit ikan untuk keperluan anak yatim di desa Bawan Kec. Lubuk Basung Kabupaten Agam Sumatera Barat dan Budidaya ikan air tawar sistem karambah di Desa Sigiran Maninjau yang juga hasilnya diperuntuk­kan 100% bagi keperluan anak yatim. Usaha ini baru dalam langkah awal, namun juga berdampak terhadap pendidikan ekonomi pedesaaan pada kalangan dhu’afa’ di sekitar proyek-proyek eko-nomi yatim tersebut antara lain menerapkan sistim bagi hasil dengan para penduduk pedesaan dimaksud.  

 Apa yang digambarkan ini, semuanya berawal dari menghidupkan kembali puro, menggerakkan hati umat untuk ikut serta mengulurkan tangan membantu kaum yang lebih lemah (dhu’afak).

Dewan Dakwah sudah lama diminta pertim-bangannya atau Rekomendasi oleh lembaga-lembaga dakwah, instansi resmi pemerintah dan perorangan dari luar negeri, dalam menyalurkan bantuan kepada kaum Muslimin Indonesia atau kepada lembaga-lembaga dakwah yang pada saat itu mulai menggeliat dalam kiprahnya.

Walau­pun ada suatu kampus yang amat memerlukan pembangunan sarana ibadah (masjid) merasa enggan dan takut untuk menerimanya terang-terangan dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.

Karena takut terbias politik Keluarga Besar Bulan Bintang (Masyumi), dan dilihat mereka bahwa pimpinan Dewan Dakwah itu seluruhnya adalah bekas pimpinan Partai Masyumi, setidaknya simpatisan partai Islam besar itu.

Ketakutan kepada Dewan Dakwah semulanya, semata-mata merupakan bayangan tanpa alasan.

Mungkin hanya lebih disebabkan  sebagai akibat logis dari suatu trauma psikologis semata.

Karena di Ranah Bundo ini pernah terjadi pergolakan daerah, yang disebut Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).

Padahal sesungguhnya, pergol;akan daerah itu sama sekali tidak pernah menuntut berdirinya negara baru, melainkan hanya semata merupakan upaya social reform  dan political reform terhadap peme-rintahan otoriter Orde Lama, yang sudah sangat mendekat kepada kekuatan Komunis.

Apalagi, dikala  terjadinya pergolakan daerah itu, tidak hanya Sumatera Barat semata yang bergolak. Bahkan, hampir diseluruh daerah Nusantara. Diawali pertama kali oleh penentangan dari pihak Tentara (ABRI) yang ada di daerah. Penentangan tersebut dilakukan secara terang-terangan dengan mendirikan Dewan-Dewan Perjuangan Daerah. Untuk Sumatera Barat, berdiri lebih dahulu Dewan Banteng.

Kesemuanya itu terjadi karena kesewenangan yang dilakukan oleh pihak pemerintahan dikala itu, diantaranya dalam membubarkan Majelis Konstituante, hasil Pemilihan Umum tahun 1955, karena dianggap berseberangan dengan kehendak beberapa kalangan pemerintahan pusat.

Terutama kelompok Komunis.

Padahal, anggota konstituante dimaksud telah dipilih oleh seluruh masyarakat dan rakyat Indonesia secara demokratis.

 Oleh karena itu, pandangan bahwa Dewan Dakwah dan pemimpin-pemimpin bekas Partai Masyumi adalah pribadi-pribadi yang sangat berbahaya,, se-nyatanya adalah merupakan pandangan  yang kurang ilmiah terhadap Masyumi.

Suatu hal yang aneh memang bila dibandingkan dengan jumlah Ummat Islam di daerah Sumatera Barat yang boleh dikata hampir 100%.

Sesuatu yang aneh bila di Ranah yang adatnya basandi syarak, syarak basandi Kitabullah ini masih ada sebahagian diantar­anya menjadi phobi dengan gerakan dakwah Islam.

 Memang tidak dapat dibantah, bahwa kebetulan sekali gerakan amaliah dakwah itu, dijalankan oleh orang-orang yang kata mereka adalah ex. Masyumi atau Keluar­ga Besar Bulan Bintang.

Ketakutan yang diikuti perasaan risih terhadap para pemimpin umat ini, masih mengental sampai masa kepemimpinan Orde Baru. Walaupun realitas objektifnya menyebutkan bahwa partai Komunis telah di bubarkan, sebagai awal dari kemunculan Orde Baru itu.

 

Namun, orang-orang dakwah, terutama yang ber-ada di Dewan Dakwah, dan pengikut pola dakwah Bapak DR.Mohamad Natsir, masih dianggap berseberangan dengan pemerintahan orde baru.

Apalagi tatkala sejarah mencantumkan catatan-nya dengan peristiwa Petisi 50, dimana banyak pemim-pin umat yang dikenal dalam Dewan Dakwah ikut menandatanganinya.

Sebenarnya, pihak militer juga banyak yang ikut dalam Petisi 50 tersebut.

Namun kebencian terhadap mereka tidaklah sedalam kebencian terhadap pemimpin-pemimpin Islam, umumnya dari bekas partai Masyumi.

Kondisi ini menjadi kendala dalam setiap kepanitiaan amal khairat Islami. Termasuk mendirikan Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Yarsi Sumbar.

Masih banyak yang enggan mengakui keberadaan Dewan Dakwah dalam mempelopori dan menggerakkannya. Inilah suatu ironi ditengah umat Islam Sumatera Barat.

Seperti contoh dibangunnya masjid kampus di tengah komplek UNAND dan IKIP di Air Tawar Padang yang terhalang beberapa lama hanya karena ketakutan terhadap bayangan Masyumi semata.

Namun akhirnya dengan pendekatan yang dilakukan oleh orang-orang tua diantaranya Hasan Beyk Dt. Marajo dan Rektor IKIP Padang Prof. DR. Isyrin Nurdin terbangunkan jugalah masjid kampus itu.

Apa yang menjadi idaman oleh setiap mahasiswa Muslim dan civitas akademika kedua perguruan tinggi di Padang itu, akhirnya wujud dalam kenyataan. Sampai sekarang masjid kampus itu berkiprah dengan baik dengan nama Masjid Al-Azhar dikampus IKIP Air Tawar Padang.Namun, orang-orang dakwah, terutama yang ber-ada di Dewan Dakwah, dan pengikut pola dakwah Bapak DR.Mohamad Natsir, masih dianggap berseberangan dengan pemerintahan orde baru.

Apalagi tatkala sejarah mencantumkan catatan-nya dengan peristiwa Petisi 50, dimana banyak pemim-pin umat yang dikenal dalam Dewan Dakwah ikut menandatanganinya.

Sebenarnya, pihak militer juga banyak yang ikut dalam Petisi 50 tersebut.

Namun kebencian terhadap mereka tidaklah sedalam kebencian terhadap pemimpin-pemimpin Islam, umumnya dari bekas partai Masyumi.

Kondisi ini menjadi kendala dalam setiap kepanitiaan amal khairat Islami. Termasuk mendirikan Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Yarsi Sumbar.

Masih banyak yang enggan mengakui keberadaan Dewan Dakwah dalam mempelopori dan menggerakkannya. Inilah suatu ironi ditengah umat Islam Sumatera Barat.

Seperti contoh dibangunnya masjid kampus di tengah komplek UNAND dan IKIP di Air Tawar Padang yang terhalang beberapa lama hanya karena ketakutan terhadap bayangan Masyumi semata.

Namun akhirnya dengan pendekatan yang dilakukan oleh orang-orang tua diantaranya Hasan Beyk Dt. Marajo dan Rektor IKIP Padang Prof. DR. Isyrin Nurdin terbangunkan jugalah masjid kampus itu.

Apa yang menjadi idaman oleh setiap mahasiswa Muslim dan civitas akademika kedua perguruan tinggi di Padang itu, akhirnya wujud dalam kenyataan. Sampai sekarang masjid kampus itu berkiprah dengan baik dengan nama Masjid Al-Azhar dikampus IKIP Air Tawar Padang.

Sebelum tahun 1986 dapat dikatakan bahwa Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia di bawah kepemimpinan Bapak DR. Mohamad Natsir oleh para Muhsinin.

Terutama para penyumbang dari Timur Tengah dan banyak juga dari para dermawan di tanah air Indonesia.

Begitu juga bantuan-bantuan yang diminta disalurkan oleh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia terhadap pembangunan Masjid Kampus Attaubah Kampus Universitas Asia Afrika (UAA) Kedawung Ciputat Jakarta, Masjid Kampus Ad Da’wah Universitas Islam Salafiyah Jl. Tanah Tinggi I Jakarta Pusat. Daerah Jawa Barat, memang sejak dulu menjadi tempat berkembangnya perguruan tinggi negeri maupun swasta. Pembangunan Masjid Kampus untuk tujuan mengokohkan aqidah dan pemeliharaan ibadah para mahasiswa Muslim amatlah penting. Seiring dengan itu, maka dibangunkan pula Masjid Kampus Abu Ubaidah Al Jarrah Fakultas Pertanian Universi­tas Bandung Raya (UNBAR) Bandung, dan Masjid Kampus Al Hijri II Kampus Universitas Ibnu Khaldun (UIK) Kedung Badak Bogor, Masjid Kampus Fatahillah Beji Depok kemudian Masjid Kampus Sulthan Alauddin Jl. Racing Centre Ujung Pandang.

Yang amat monumen Islamic Centre (Masjid) Al Furqan Jl. Kramat Raya 45 Jakarta Pusat DKI.

Pada hari ini menjadi markas kegiatan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Pusat dan Kantor Dewan Dakwah Perwakilan DKI Jaya yang sarat dengan kegiatan-kegiatan. Diantaranya melingkupi bidang pendidikan dan pelatihan, penerbitan, pusat informasi, perpustakaan, koordinasi da’i diseluruh Nusan­tara, dan tidak ketinggal-an sebagai tempat tujuan tamu-tamu dari lembaga lembaga dakwah manca negara.

Enam Islamic Centre lainnya tersebar di daerah-daerah luar Jakar­ta, seperti Islamic Centre Darul Hikmah Gedung Meneng Bandar Lampung di Lampung.

Dan Islamic Centre Ruhul Islam Banjar Negoro Magelang Jawa Tengah. Islamic Centre Muhtadin Sleman Yogyakarta, Islamic Centre Al Maylan Pabelan Surakarta Jawa Tengah, Islamic Centre Muniraq Al Shabbah Jl. Purwodadi Surabaya Jawa Timur.

Begitu pula dibangunkan Islamic Centre INDONESIA di Jl. Kramat II No. 75-77 Jakarta Pusat DKI Jaya.

Dalam masa sebe­las tahun (1986-Agustus 1997) Dewan Dakwah telah membangunkan 421 bangunan diantaranya 391 buah Masjid, 7 buah Islamic Centre, dan 7 buah Masjid Kampus, 2 buah Taman Kanak-kanak, 3 buah Rumah Yatim (Darul Aitam).

 

Dalam proses globalisasi ini, hanya produk‑ produk yang mampu bersaing pada tingkat pasaran dunia yang mampu memenangkan persaingan besar.

Persaingan pasar tersebut ditentukan oleh speksifikasi produk yang menjadi unsur “kepercayaan” (trust), seperti yang diungkapkan oleh penulis sejarah Francis Fukuyama, pria Jepang yang lahir dan dibesarkan di Amerika Serikat dan menduduki Dekan di George Mason Universi­ty, Washington  baru‑baru ini di Jakarta. Berbeda dengan Francis Fukuyama yang mengemukakan  tesis kesejar­ahan telah berakhir saat ini (The End of History), maka agama Islam, menurut pemahaman Bapak Mohamad Natsir diantaranya mengemukakan bahwa, adanya tesis kesejarahan pada setiap saat dan tempat (wa tilka al-ayyamu nudawilu-haa baina an-naas).

 


[1] Kira-kira 80 juta ekor sapi, atau kira-kira sepertiga dari seluruh jumlah sapi di India itu, yang kekuatannya tidak dimanfaatkan lagi dalam proses produksi seperti membajak, penghela pedati, atau sapi perahan tidak boleh disembelih tetapi harus dipelihara dan diberi makan selama hidupnya.

[2]  Dan Nehru semasa hidupnya pernah menghadapi protes-protes yang pedas dari rakyat India, ketika ia mengupas persoalan sacred monkey” itu secara rasionil, dan mengemukakan idea untuk mengekspor monyet-monyet itu hidup-hidup ke luar negeri, di mana monyet-monyet itu dapat dimanfaatkan kulitnya sedangkan India mendapat devisa yang diperlukan untuk pembentukan modal. Mengenai masalah sacred cow, Nehru ataupun para pemimpin politik dan ekonomi India lainnya, tidak pernah berani menyinggungnya.Malah memberi perlindungan atas sacred cow ditempatkan dalam Undang-undang Dasar Negara India sendiri. Akan tetapi dalam hal ini pemimpin India yang bertanggung jawab berhadapan dengan suatu kepercayaan agama yang sudah berurat berakar pada masyarakat India, mengelakkan konfrontasi dengan mereka, berdasarkan pertimbangan bahwa suatu percobaan untuk memberantasnya secara radikal, niscaya akan berakibat negatif yang akan mencetuskan kekacauan dan kerusakan-kerusakan terus menerus, dan akan mengakibatkan macetnya pembangunan ekonomi.

[3] Syukur pula “Alam Minangkabau” masih terlindung dari kebiasaan pemborosan besar-besaran yang terjadi bila ada organisasi-organisasi yang merayakan Hari Ulang Tahunnya yang kesekian, dengan pengeluaran besar tanpa alasan.

 

Dakwah Ila Allah bukan Dakwah Politik

Dakwah Ila Allah

Bukan Dakwah Politik

Oleh : H. Mas’oed Abidin

 

 

 

Dewan Dakwah bukan ormas, dan juga bukan partai politik. Tetapi Dewan Dakwah tidak membiarkan dirinya dan keluarga besarnya buta politik. Karena politik pada hakekatnya adalah seni mengatur masyarakat.

Barang siapa tidak dalam posisi mengatur maka dengan sendirinya ia berada dalam posisi diatur. Yang mengatur adalaarnussa-1427-004-1h pemerintah dan semua lembaga kenegaraan yang tersebut dalam Undang-undang Dasar, sedang yang lainnya, termasuk Dewan Dakwah, berada dalam posisi diatur.

Masing-masing pihak, baik yang menga­tur maupun yang diatur, mempunyai hak dan kewajiban. Semuanya tunduk aturan dasar bersama yang disepakati bersama yakni Undang-undang Dasar.

Di satu segi, pihak yang mengatur berhak dita’ati semua peraturan yang dibuat selama tidak menyimpang dari Undang-undang Dasar.

Disegi lain pihak yang mengatur juga berkewajiban melindungi yang diatur, selama ia tidak menyalahi aturan dasar, yakni Undang-undang Dasar.

Pihak yang diatur berkewajiban men­ta’ati aturan aturan pihak yang mengatur, selama aturan-aturan itu tidak bertentangan dengan Undang-undang Dasar.

Pihak yang diaturpun berhak mengingatkan pihak yang mengatur dengan kontrol-kontrol sosial ataupun cara-cara lain yang tidak bertentangan dengan Undang-undang Dasar[1]

Dalam kondisi inilah tetap akan teringat taushiyah Bapak DR. Mohamad Natsir bahwa dikala kita berada dimimbar politik kita tetap berdakwah, dan di mimbar dakwah kita tidak kan meninggalkan politik, karena dakwah kita adalah dakwah ilallah.

 

Memelihara Kerukunan Umat

Memelihara daerah dari bahaya gerakan Salibiyah berarti juga menjaga keutuhan nilai-nilai adat yang terang-terangan menyebut­kan bahwa Ranah Minang ini adatnya bersendi syara’ dan syara’ bersendi Kitabbullah.

Selain itu memelihara keutuhan ukhuwah hanya dimung­kinkan dengan menghidupkan kembali nilai-nilai “tungku tigo sajarangan” dalam melibatkan unsur-unsur alim ulama ninik mamak dan para cendekiawan baik yang duduk dalam pemerintahan maupun yang ada di kalangan perguruan tinggi. Juga tak dapat dilupakan tentang peran kegotong-royongan sebagai buah dari ajaran ta’awun sebagai inti aqidah tauhid.

Amal nyata yang diprogramkan oleh Bapak DR. Mohamad Natsir dan ditinggalkan untuk dikerjakan di Sumatera Barat merupakan program yang amat monumental.

Semacam program untuk pencerahan jiwa umat, dan berpaksikan pengalaman dar perjalanan dakwah menuju ridha Allah.

Pencerahan Jiwa

Kata‑kata ridha merupakan maqam (tingkatan) terakhir dalam maqam (tingkatan) rohani kehidupan tasauf (pembersihan diri).

Maqam ini hanya bisa dicapai setelah melalui maqam‑maqam di bawahnya, seperti taubat, wara, zuhud, shabr, fakir, zikir dan tawakkal.

Ketujuh maqam tersebut hanya bisa dilalui oleh se telah mengalami pencerahan (enlightenment), baik dalam bidang pemikiran maupun spritual rohani.

Pencerahan (enlightenment) tersebut dilakukan oleh mereka yang telah menjelajahi berbagai pemikiran yang ada dan melakukan penyaringan (filter) terhadap segala bentuk pemikiran tersebut, agar melahirkan pemikiran bersih, jernih dan bisa diterima oleh semua pihak, baik mereka yang setuju maupun mereka yang berseber­angan dengan dirinya.

Proses ini telah dialami oleh Bapak DR.Mohamad Natsir melalui kawah candradimuka intelektual, yang Beliau lalui dalam proses belajar yang panjang dengan guru-guru Beliau.

Mulai dari yang memiliki pandangan hidup dan pemikiran yang keras seperti A.Hasan Bandung dari Persis.

Sampai kepada tokoh-tokoh yang moderat bahkan dianggap sangat menerapkan sosialisme Islam dalam Syarikat Islam, seperti HOS Cokroaminoto atau Haji Agus Salim.

Di samping itu, proses pencerahan dan sikap politik, diben­tuk juga oleh latar belakang pendidikan dan pengalaman hidup. Dengan mengenal perjalanan sejarah kejuangan ini, maka dapat dipahami jalan pikiran dan gerak perjuangan Bapak DR.Mohamad Natsir, sebagai politisi aktif yang hidup dalam masyarakat, tetapi juga sebagai the political thinkers atau the political idea philospher. Karenanya, setiap program kerja yang di-sampaikan kerapkali memakai pendekatan filosofis yang mencakup banyak makna, berwawasan luas dan menjangkau masa yang panjang.

Maka tatkala Bapak DR. Mohamad Natsir pulang ke Ranah Minang, ada lima program pokok yang mesti dilakukan di Sumatera Barat yakni:

1.     Menggerakkan Kembali Tangan Umat.

2.     Melembagakan kembali lembaga Puro.

3.     Menghidupkan Madrasah dan Pendidikan Agama Islam yang tengah lesu darah

4.     Membangun Rumah Sakit Islam

5.     Memperhatikan Pembangunan Masyarakat Mentawai.

Semua program pokok ini mesti disejalankan dengan niat membangun kembali kampung halaman secara integratif.

Bila kita pedomani pesan Rasulullah dalam Khutbah Wada’ bahwa “sesungguhnya masa berubah, zaman berganti maka haruslah diyakini bahwa perubahan masa dan pergantian zaman merupakan suatu Sunna­tullah yang akan tetap berlaku dan sebagai umat dakwah kita meyakini bahwa didalam setiap perobahan tersimpan cobaan dan ujian.

Yang satu tak dapat dipisahkan dari yang lain yakni kesusahan dan kesenangan.

Dua-duanya berjalan, bersamaan atau berganti-ganti. Itulah arti hidup, kadang-kadang kita diuji dengan rasa kesenan­gan, adakalanya kita diuji dengan rasa putus asa. Kedua-duanya adalah ujian, apakah kita dapat mengatasi kedua perasaan itu atau tidak.

Maka marilah melihat tiap-tiap persoalan yang kita hadapi dari masa ke masa, sekarang atau yang akan datang, sebagai ujian, sebagai ibtilaa’  yang silih berganti.

 

Gerakkan kembali tangan umat

a.     Melalui penguasaan keterampilan di desa-desa,

b.     Sebagai usaha membina kesejahteraan bersama,

c.      Menghidupkan kembali ekonomi umat di desa-desa. Desa adalah benteng kota dalam artian perkembangan ekonomi yang sesungguhnya.

Masalah keterampilan seperti pertanian dan peternakan terpadu di Tanah Mati Payakumbuh dan pemanfaatan lahan-lahan wakaf umat di Rambah Kinali mulai di garap.

Tujuan utamanya tidak hanya sekedar untuk mendatangkan hasil secara ekonomis namun lebih jauh dari itu.

Diharapkan sebagai wadah pembinaan dan pelatihan generasi muda.

 

MEMBINA UMMAT DARI BAWAH…, [2])

            Sudah sama-sama kita sadari, bahwa YAYASAN KESEJAHTERAAN telah memilih bidang “pembinaan” sebagai lapangan usaha. Yakni pembinaan umat masyarakat desa, baik lahir ataupun batin.

            Perumusan ini amat sederhana kedengarannya tetapi pada hakekatnya, tidaklah begitu sederhana. Sebab ini berarti bahwa kita berusaha memanggil dan membawa serta masyarakat desa itu memperbaiki dan meningkatkan taraf hidupnya mencapai kesejahteraan lahir dan batin.

            Semua itu dalam rangka “pembinaan negara” dalam arti yang luas.

            Dan tidak usah kita men­yembunyikan diri dari padanya, tetapi kita harus hadapi dengan iman, dengan warisan Rasulullah SAW, Kitaballah wa Sunnata Na­biyyihi.[3]

            Kalau kita sudah menyadari benar-benar hakekat tugas kita itu, maka titik tolak dan cara-cara usaha kita mempunyai suatu corak yang khas.

b.     Satu dalil dalam ilmu ekonomi, mengatakan bahwa manusia sebagai manusia ekonomis (homo-economicus) umum melakukan kegiatan-kegiatan ekonomis dengan tujuan mencapai sebanyak-banyak hasil, guna memenuhi keperluan-keperluannya dengan “korban” yang sekecil mungkin.

            Begitu bunyi satu dalil atau stelling ekonomi yang terkenal.

              Akan tetapi manusia bukan semata-mata homo economicus saja. Tetapi ia juga seorang homo methaphisicus atau homo religiousus. Manusia mempunyai bermacam kepercayaan menganut bermacam nilai hidup yang seringkali dipandang lebih penting dari memenuhi keperluan hidup material semata-mata.

             Manusia juga adalah makhluk ijtimaa’ie social being yang tak dapat tidak, hidup dalam suatu “rangka kemasyarakatan” social order, di mana dia terikat oleh ikatan-ikatan kulturil, sosial politik, adat-lembaga, atau cita-cita sosial yang tertentu.

            Salah seorang Sarjana Ekonomi dalam satu ulasannya mengatakan antara lain[4]);

“… perkembangan ekonomi itu bukanlah suatu proses yang semata-mata mekanis sifatnya. Tidaklah semata-mata sekedar usaha menghimpunkan beberapa unsur-unsur yang tertentu. Pada akhirnya suatu perkembangan ekonomi itu, adalah merupakan satu usaha manusia. Dan sebagaimana juga halnya dengan lain-lain usaha manusia, hasilnya, pada akhirnya, tergantung kepada kecakapan, mutu (kualitas) dan sikap jiwa dari manusia yang menyelenggarakan usaha itu sendiri“.

                   Masyarakat yang hendak dipanggil berusaha meningkatkan kesejahteraan lahir dan batin itu, adalah masyarakat-agraris. Masyarakat pertanian dengan segala sifat dan pembawaannya sebagai “masyarakat tani”.

            Taraf hidup sebagian terbesar dari desa-desa masih dekat sekali kepada gambaran masyarakat desa yang dilukiskan oleh DR. MOHAMMAD HATTA.[5]

            Pada umumnya apa yang digambarkan oleh Bung Hatta itu masih merupakan satu gambaran yang karakteristik atau ciri umum dari masyarakat pedesaan kita, boleh dikatakan di seluruh tanah air.

                   Maka apabila sekarang kita hendak membangun perikehidupan masyarakat desa yang demikian, tidaklah dapat menutup mata dari keadaan yang nyata itu.

            Agar dengan pengetahuan tentang “kekayaan alam” yang ada, pengetahuan tentang “tingkat kecerdasan” umat.

            Perlu jeli memahami tentang “sikap jiwanya” yang ditentukan oleh bermacam-macam unsur “non-ekonomis” itu, dapatlah digariskan rencana usaha dan cara-cara mendekati persoalan atau menentukan “approach“nya.

Akhirnya kita dapat melihat dan merasakan bahwa besarnya Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia selama lebih dari tiga dasawarsa perjalanannya (1967-2000) hanyalah karena kesinambungan amal yang terus menerus didalam rakitan mengharap redha Allah. Kekuatan lain yang tidak kalah menentukan ialah, selalu berusaha berurat di hati umat.

            Maka khittah kita dalam menghadapi pem-bangunan bertitik tolak pada pembinaan manusianya, dalam arti mental dan fisik.

            Membina daya pikir dan daya ciptanya, membersihkan aqidah dan membangun hati nurani-nya, membina kecakapan dan dinamikanya.

            Sehingga seimbang pertumbuhan rohani dan jasmaninya, seibang kesadaran akan hak dan kesadaran akan kewajibannya, seimbang ikhtiar dan do’a nya.

            Sebab, kesudahannya, “perkembangan umur manusia”, inilah jua yang dapat mengarahkan per-kembangan lahiriyah dibidang apapun.

 

      

 

       Allah tidak merubah keadaan satu kaum, kecuali apabila mereka merobah apa yang ada pada diri mereka sendiri“.

Adapun modal dan teknologi adalah perlu, sebagai alat pembantu dan pendorong mempercepat prosesnya.

Inilah sebuah amanah yang menjadikan pikulan generasi dakwah turun temurun “Patah Tumbuh Hilang Berganti”, 

Insya Allah.

Hidupkan kembali  Madrasah

yang sudah lesu darah

 

Mungkin disebabkan oleh karena kehabisan tenaga pada masa pergolakkan.

i.         Hidupkan masjid bina jama’ah.

ii.       Tumbuhkan minat seluruh masyarakat untuk menghormati ilmu

iii.    Tanamkan keyakinan umat untuk memiliki kekuatan Iman dan Tauhid.

iv.     Terutama memulainya dari kalangan generasi muda.

Seiring dengan itu masalah pendidikan pun dihidupkan seperti perhatian penuh terhadap lembaga pendidikan yang sudah ada. Seperti Thawalib Parabek, Thawalib Padang Panjang, Diniyah Padang Pan­jang dan banyak lagi yang lain. Disamping madrasah yang sudah ada dihidupkan pula madrasah baru seperti Aqabah di Bukittinggi.

Namun, orang-orang dakwah, terutama yang ber-ada di Dewan Dakwah, dan pengikut pola dakwah Bapak DR.Mohamad Natsir, masih dianggap berseberangan dengan pemerintahan orde baru.

Apalagi tatkala sejarah mencantumkan catatan-nya dengan peristiwa Petisi 50, dimana banyak pemimpin umat yang dikenal dalam Dewan Dakwah ikut menandatanganinya. Sebenarnya, pihak militer juga banyak yang ikut dalam Petisi 50 tersebut.

Akan tetapi kebencian lebih banyak ditimpakan kepada pemimpin-pemimpin Islam, umumnya dari bekas partai Masyumi.

 

Kondisi ini menjadi kendala dalam setiap kepanitiaan amal khairat Islami. Termasuk mendirikan Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Yarsi Sumbar.

Masih banyak yang enggan mengakui keberadaan Dewan Dakwah mempelopori dan menggerakkannya. Inilah suatu ironi ditengah umat Islam Sumatera Barat.[6]

Pembangunan rumah-rumah ibadah terutama di kampus-kampus (masjid kampus) dan Islamic Centre tetap menjadi perhatian utama.

Pembangunan Masjid Kampus ini terlaksana karena adanya kerja sama antara Badan-badan Dakwah di luar maupun di dalam negeri sebagai perwujudan nyata dari usaha dakwah berdasarkan redha Allah.

Pembangunan Islamic Centre dimak­sud sebagai wahana pembinaan dan pengkaderan generasi intelek­tual Muslim. Selama sebelas tahun (1986-1997) menjadi titik perhatian Dewan Dakwah. Dalam periode itu telah  dibangunkan tujuh Islamic Centre. Di daerah Sumatera Barat, Ranah Minang, dibangunkan pula Islamic Centre Al Quds Air Tawar Barat Padang Sumatera Barat. Islamic Center ini dikelola sejak dari berdirinya oleh Yayasan Ibu Sumatera Barat, yang sanagat banyak berkaitan dengan anggota-anggota Badan Penyantun Rumah Sakit Islam IBNU SINA Yarsi Sumbar.

Memang, disadari sebenarnya telah lama terbentuk image bahwa Dewan Dakwah, dapat dikatakan atau boleh dianggap, sebagai satu-satunya lembaga yang dapat dipercaya untuk diminta memberikan rkomendasi, terutama oleh para Muhsinin dari Timur Tengah.  [7]

Maka tidaklah mengherankan kalau penanganan proyek-proyek fisik berbentuk sarana ibadah ini atas inisiatif Bapak DR. Mohamad Natsir merupakan kerja yang tidak boleh disambilkan.[8]

Sebagai organisasi dakwah, setiap unsur yang berperan dalam Dewan Dakwah diajarkan memang­gil semua orang ke jalan Allah, dengan cara-cara yang diperingat­kan bil-hikmah (bijaksana).

Bil hikmah dalam satu masyarakat yang terdiri dari pemeluk-pemeluk berbagai agama, terasa sekali sangat mutlak diperlukannya.[9]

Dakwah Islam adalah perombakan total sikap ummat manusia di dalam menanggapi dan menjalani kehidupan duniawi untuk persiapan kehidupan yang lebih panjang tanpa batas di akhirat. Maka sasaran Dakwah Islam adalah manusia yang tengah hidup di dunia ini, atau dengan perkataan lain Dakwah tidak akan pernah berhenti tetap akan merupakan kewajiban (fardhu ‘ain) bagi setiap umat Muslim dimana pun mereka berada.

 

Karena itu para pendiri Dewan Dakwah yang terdiri dari para ulama dan zu’ama’ yang bemusyawarah di Masjid Al Munawwarah Kampung Bali Tanah Abang Jakarta Pusat pada awal 1967 dengan sadar telah memilih bentuk Yayasan dan karenanya tidak mempunyai anggota.

Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia berdasarkan taqwa dan keredhaan Allah dan bertujuan menggiatkan mutu dakwah Islamiyah di Indonesia.

Dalam melakukan kegiatan-kegiatan, Dewan Dakwah menempatkan diri sebagai penerus kegiatan-kegiatan dakwah sebe­lumnya yang telah dimulai sejak Rasulullah SAW.

Menerima tugas risalah, artinya adalah memanggil umat manusia kepada jalan Allah, dengan hikmah dan mau’izhatu hasanah.

Bapak DR. Mohamad Natsir menyebutkan dengan ungkapan sederhana tapi padat arti ialah “risalah mengawa­li dan dakwah melanjutkan”.

Karena itu apabila terdapat pihak-pihak yang membantah, supaya dihadapi dengan dalil dan kaifiyah yang lebih baik.

Dewan Dakwah sadar benar walaupun tugas risalah Islamiyah yang dibawa Rasulullah SAW bertujuan menciptakan rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil ‘alamin).

Namun sudah menjadi tabi’at pemba­waan, bahwa setiap risalah pasti menghadapi tantangan.

Dan untuk menghadapi tantangan itu, diperlukan jawaban-jawaban. Karena itu tugas dakwah senantiasa mengandung dua segi: bina’an wa difa’an, membina dan mempertahankan.

Pertama: membina mereka yang sudah muslim baik yang sejak lahirnya maupun yang baru masuk Islam berkat keberhasilan dakwah Islamiyah,

Kedua: membela Islam dan umatnya dari mereka yang tidak senang melihat kemajuan umat Islam bahkan yang melihat Islam sebagai rivalnya.

 


[1] Lihat DR Anwar Haryono, Media Dakwah, Dzulkaedah 1411H/ Juni 1991; Tawashi bilhaqqi Tawashi bissabri).

[2])   Disampaikan dalam pidato Ulang Tahun Yayasan Kesejahteraan di Padang 15 Juni 1968, Gedung Bagindo Aziz Chan Padang

 

[3] , begitu pesan taushiyah Bapak DR. Mohamad Natsir Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DEWAN DAKWAH) pada silaturrahmi dan tasyakur 24 tahun Dewan Dakwah di Jakarta 1991.

[4])   Richard T. Gill, “Economic Development, Past and Present“…. the point of that economic development is not a mechanical process; its not simple adding up of assorted factors. Ultimately it is a human enterprises. And, like all human enterprises is out-come will depend finally on the skill, quality and attitudes of the men who undertake it“.

[5] ” Penghidupan beredar menurut irama yang sudah tentu. Dan tahun ketahun edaran ekonomi tetap, tidak berubah-ubah. Memang ada yang mengganggu ketetapan itu. Misalnya musim kemarau, musim penyakit dan bahaya perang, yang memusnahkan beberapa jiwa. Tetapi selainnya menunggu, segala marabahaya itu menetapkan kembali keadaan yang lama. Jiwa yang bertambah dari tahun ke tahun disapunya kembali. Oleh karena itu neraca penghidupan masyarakat serupa lagi dengan keadaan semula sebelum bertambah umatnya. Sebab itu pula segala marabahaya itu dirasai orang sebagai satu fatum, “takdir” yang tak dapat dihindarkan.

Kepercayaan akan takdir seperti itu memperkuat perasaan menyerahkan nasib yang sudah tertentu, menimbulkan keyakinan bahwa yang ada itu, tidak dapat diubah-ubah. Demikianlah keadaannya penghidupan jiwa di dusun. Alam dan tempat, menjadi alat pengasuh perasaan kuno, perasaan menyerah dan perasaan sabar.”  Begitu, antara lain dalam bukunya “Beberapa Fasal Ekonomi

[6] Seperti contoh dibangunnya masjid kampus di tengah komplek UNAND dan IKIP di Air Tawar Padang yang terhalang beberapa lama hanya karena ketakutan terhadap bayangan Masyumi semata. Namun akhirnya dengan pendekatan yang dilakukan oleh orang-orang tua diantaranya Hasan Beyk Dt. Marajo dan Rektor IKIP Padang Prof. DR. Isyrin Nurdin terbangunkan jugalah masjid kampus itu. Apa yang menjadi idaman oleh setiap mahasiswa Muslim dan civitas akademika kedua perguruan tinggi di Padang itu, akhirnya wujud dalam kenyataan. Sampai sekarang masjid kampus itu berkiprah dengan baik dengan nama Masjid Al-Azhar dikampus IKIP Air Tawar Padang.

[7] Ini terbukti bahwa sejak tahun 1968 itu atas rekomendasi Dewan Dakwah di bantu juga Islamic Centre seperti Islamic Centre Masjid Taqwa Muhammadiyah Padang. Bantuan para muhsinin tersebut diwujudkan dalam penyempurnaan pembangu­nan Masjid tersebut yang beberapa tahun sebelumnya mendapat musibah runtuh kubahnya.  Sejak tahun 1986 itu Bapak DR. Mohamad Natsir selaku Ketua Dewan Dakwah membentuk seksi (bagian) yang khusus menangani proyek fisik rumah ibadah ini. Masjid Kampus yang dibangun tahun 1986-1997 antara lain adalah Masjid Kampus Sulaiman Hasawy di kampus Aqabah Tarok Bukittinggi Sumatera Barat.

[8] Karena itu bila terjadi umat Islam di pedesaan bahkan di kota-kota dan juga daerah-daerah sulit yang baru di buka (daerah transmigrasi, daerah-daerah terpencil dan terisolir yang disebut sebagai medan dakwah) mengeluhkan tidak adanya rumah ibadah maka dengan sendirinya Dewan Dakwah berusaha mencari bantuan. Mengokohkan ibadah umat melalui pembangunan sarana-sarana ibadah menjadi satu pekerjaan yang tidak bisa diabaikan.

[9]  Lihat DR. Anwar Haryono, SH; Media Dakwah Dzulkaedah 1411/ Juni 1991; Mengingat 24 Tahun Dewan Dakwah.

Pemimpin Pulang

KIPRAH DAKWAH

DI SUMATERA BARAT

Oleh H Mas’oed Abidin

 

“PEMIMPIN PULANG” …..,

                14 JUNI 1968, udara pagi yang cerah di Lapangan Udara Tabing Padang, pintu gerbang ranah Minang, kembali hidup, setelah hampir satu dasawarsa berada dalam cengkeraman “Orde Lama” merasa terbebas dari rasa tertekan dan hilangnya harga diri.

                Hari itu, baru 2 tahun setelah “Orde Baru” dicanangkan dibawah kepemimpinan Soeharto, yang didukung oleh massa rakyat yang lahir dari TRITURA sangat mendambakan suasana baru, nafas baru, terbebas dari segala macam tekanan yang selama ini terasa berat menghimpit di bawah sistem komunis PKI, untuk kembali membanguanak-anak-jakarta-sukabumi-044n kampung halaman.

                Jam menunjukkan jarum waktu 08.15 WIB pagi, disaat pesawat Electra GIA mencecah landasan dengan mulus, membawa di dalamnya Pemimpin Pulang, Bapak DR.Mohamad Natsir dan Umi yang berkunjung ke Sumatera Barat atas undangan Gubernur Sumbar Prof. Harun Zain  dan Wali kota Padang Kol. Maritim Akhirul Yahya.

                Pemimpin Pulang, Bapak DR.Mohamad Natsir dengan kepada tegak melanjutkan perjuangan dalam rangka merangsang semangat yang tadinya telah hampir padam untuk membangun kampung halaman. Beliau disambut dengan panggilan “orang tua kita”.

                Hampir seluruh daerah Tingkat II dalam daerah Sumatera Barat sempat didatangi Bapak DR.Mohamad Natsir, mendorong umat kembali memulai membangun negeri yang bermuara dari lubuk hati.

 

TASYAKUR NIKMAT

 

                Saat itu, kita sedang berada dalam suasana tasyakur nikmat bersyukur bahwa genaplah usianya 5 tahun Yayasan Kesejahteraan di Sumatera Barat. Kalaulah tidak lantaran Karunia Ilahi tadinya, tidaklah terbayang sama sekali, bahwa kita akan dapat mencapai apa yang tercapai sampai sekarang ini, apabila kita ingat betapa besarnya kesulitan yang harus kita lalui.

                Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamien ….,

                Inilah bukti yang nyata dari kebenaran Firman Ilahi itu.

               

 

                Kalau hari itu kita memperingati 5 tahun usianya Yayasan Kesejahteraan, pada hakekatnya amalnya sudah lebih tua dari usianya sendiri, yaitu beberapa tahun sebelum amal itu bernama Yayasan Kesejahteraan.

                Titik tolak dari usaha ini berasal dari pertemuan pemimpin kita di Padang Sidempuan yang telah menggariskan suatu langkah untuk membangun kembali Sumatera Barat, yang baru saja keluar dari situasi pergolakan daerah.

                Pergolakan, memang membekaskan dari luka-luka yang terkoyak oleh perang saudara semasa rezim Soekarno, selam 2½ tahun lamanya.

                Banyak luka yang harus ditambal, banyak sakit yang harus diobati, banyak keruntuhan yang harus dibangun.

                Langkah-langkah yang digariskan itu, adalah tersimpul kepada bagaimana menghadapi:

penyaluran tenaga-tenaga terpelanting, baik ia rakyat pengungsi yang kehilangan sumber hidup, maupun mahasiswa pelajar yang terputus pelajarannya.

perumahan rakyat yang hangus terbakar

sumber ekonomi rakyat desa yang tertutup jalan

luka hati rakyat yang merasa kehilangan tempat mengadu

kehancuran pendidikan agama.

               

                Jauh sebelum pemimpin pulang, di bulan Nopember 1961, telah berlangsung satu pertemuan di Medan, yang dipelopori oleh Bapak DR.Mohamad Natsir, Brigjen A.Thalib, Dr. Darwis, Mawardi Noor; dan dari pertemuan itu keluarlah satu pandangan yang sama, bahwa,  untuk membangun kembali Sumatera Barat waktu itu haruslah dengan menggerakkan anak kemenakan putera-putera Minang dan daerah yang bertebaran diperantauan.

                Sebagai wadahnya diambilah kebijaksanaan membentuk yayasan yang bernama Yayasan Tunas Harapan, kemudian berubah menjadi Yayasan Harapan Umat, yang diketuai oleh Mr. Ezziddin.

                Dalam pada itu, sebagian di antara keluarga Qurba yang sudah bertekad pula untuk tinggal di daerah Sumatera Barat dengan segala akibat yang harus dilalui, berusaha dengan sepenuh hati menurut kemampuan yang ada, sesuai dengan kondisi dan situasi yang sedang dialami pada waktu itu.

                Dengan bantuan dari keluarga Bulan Bintang dan perantauan Pekanbaru, Medan, Padang Sidempuan dan Jakarta.

                Saudara Syarifah Dinar dan Asma Malim telah berhasil menghimpun bingkisan-bingkisan mawaddah fil qurba berupa kain, pakaian dan uang, bingkisan mana langsung diantarkan kepada para keluarga korban perjuangan dibeberapa tempat yang dapat dicapai di Sumatera Barat.

                Terjalinlah kembali ta’ziyah fil qurba dengan surat pengantar Bapak DR.Mohamad Natsir.

                Dengan pedoman yang telah digariskan secara terperinci oleh Bapak DR.Mohamad Natsir untuk memulihkan tenaga-tenaga terpelanting dan menumpahkan perhatian terhadap puluhan ribu rumah yang terbakar hangus akibat pergolakan, maka amal-amal nyata yang telah mulai digerakkan itu, dilanjutkan ke arah mencarikan lapangan pekerjaan bagi tenaga-tenaga terpelanting tersebut. Menurut bakat dan kemampuan mereka masing-masing.

                Pada umumnya usaha ini menemui berbagai kesulitan, karena psikologis masih diliputi oleh rasa takut.

                Alasan yang sering ditampilkan adalah untuk menjaga keamanan yang bersangkutan.

                Namun demikian, dalam jumlah yang sangat sedikit, dapat juga berhasil.

                Hasil ini pada umumnya adalah karena “faktor hubungan” keluarga dan famili antara yang “menerima” dan menampung dengan yang “memberi” kan tenaganya (yang ditampung).

                Didorong oleh rasa tanggung jawab terhadap kampung halaman yang baru saja keluar dari kancah pergolakkan, PRRI maka seluruh putera-putera yang benar-benar cinta kepada kampung halaman negerinya, pastilah ingin turun tangan untuk membangun kembali kampung halamannya (negerinya) itu.

                Usaha-usaha ke arah itu dengan menumbuhkan perhatian dan menggerakkan perantau-perantau.

                Guna menyalurkan bantuannya untuk mendorong kembali kehidupan rakyat, menghubungi mereka serta memanggil hati mereka, dalam berusaha membangun kampung dan negeri dari tanah perantauan.

                Lebih jauh yang diniatkan adalah timbulnya “percaya diri” (self confidence) dalam arti strategi yang menyatu yaitu “strategi harga diri” yang lebih sering disebut oleh Bapak DR.Mohamad Natsir dengan izzatun nafsi sebagai buah nyata dari pandangan hidup tauhid (Tauhidic Weltanschaung).

                Dalam melanjutkan usaha itu, Bapak DR.Mohamad Natsir terus menerus membekali dengan pedoman dan petunjuk-petunjuk yang digoreskan walau dari dalam karantina politik dari rezim “orde lama”, bersama pemimpin-pemimpin lainnya seperti Bapak Syafruddin Prawiranegara, Burhanuddin Harahap, Duski Samad, dan lain-lainnya.

                Ide membangun dari rantau yang diketengahkan Bapak DR.Mohamad Natsir disambut baik, tidak hanya oleh para dermawan, dengan menyanggupi untuk membantu melapangkan jalan dalam usaha-usaha yang tengah dilakukan.

                Adalah suatu keniscayaan belaka, bahwa “mencapai kemakmuran rakyat banyak ditentukan kepada kerajinan tangan dan usaha rumah tangga”.

                Memulainya dengan program sederhana seperti perindustrian tikar mendong ataupun persuteraan melalui beberapa program latihan dan pengenalan, waktu itu tahun 1962.

                Di awal tahun 1963, selesai masa pelajaran-pelajaran beberapa tenaga pulang ke kampung masing-masing, dengan dibekali amanat supaya kepandaian praktis yang telah diperdapat itu, hendaklah dimanfaatkan untuk diri dan untuk masyarakat kala itu Bapak DR.Mohamad Natsir sudah pindah ke Batu, Malang.

                Merencana sambil tasyakur nikmat atas bebasnya Ibu Hajjah Rahmah El Yunusiyah di Padang Panjang dari karantina politik orde lama, telah mempertemukan teman, guru dan bekas murid dan membuahkan kesepakatan.

                Kesepakatan dari hati untuk dipindahkan ketangan dalam bentuk amal nyata, bahwa ilmu pengetahuan praktis yang telah didapat di Jawa Barat yakni sutera alam dan tikar mendong harus diperkembangkan pula di Sumatera Barat melalui kursus dan latihan.

                Latihan pertama dilakukan pada tanggal 15 April sampai dengan 15 Mei 1963 di Balingka, dengan diikuti oleh 20 orang ibu-ibu Muslimah.

                Dari sini, kelak menjadi berkecambah membentuk Badan Penyantun terutama bagi percepatan pembangunan dan perwujudan idea Rumah Sakit Islam Ibnu Sina, YARSI Sumatera Barat.

                Bayangan masa depan yang menyeruak penuh harapan di antara tekanan diktator yang dikendalikan oleh PKI telah merayap dari sudut ke sudut hati setiap peserta, walaupun juga barangkali dirasakan, bahwa di antara hal-hal itu ada yang demikian barunya sehingga sukar, malah rasa-rasa tak mungkin dapat mencapainya.

                Semboyan kita ialah :

Yang  m u d a h  sudah dikerjakan orang

Yang  s u k a r  kita kerjakan sekarang

Yang  tak mungkin  kita kerjakan besok

Dengan mengharapkan hidayat Ilahi

                “Katakanlah: Wahai kaumku, berbuatlah kamu sehabis-habis kemampuan-mu, akupun berbuat” !

 

                Itulah bunyi semboyan yang menjadi pesan Bapak DR.Mohamad Natsir dalam pedoman pemulihan tenaga terpelanting, sedari dulu di pertengahan November 1961.

                Usaha-usaha mempelajari pengetahuan praktis itu, tidaklah hanya dicukupkan dengan apa yang telah dilakukan oleh rombongan pria, akan tetapi merasakan pula pentingnya dipelajari oleh wanita-wanita dalam mempertinggi kesejahteraan hidup di rumah tangga.

                Pemeliharaan hubungan kerjasama sesama keluarga seperti telah dilakukan oleh Djanamar Adjam dengan H.M. Miftah sekeluarga di Pasar Minggu pada November 1963, dalam memperkenalkan cara usaha pembibitan dan penanaman Tanaman Holtikultura, dan juga pengetahuan penganyaman topi bambu di desa Cangkok Tangerang, umpamanya pula mempelajari penanaman padi dan jagung ke Lembaga Padi dan Jagung di Bogor terutama dikalangan “bundo kandung” kaum ibu penting pula dikembangkan melalui latihan-latihan praktis.

                Pengenalan bibit harapan, penggunaan pupuk yang tepat, percobaan penanaman pertama, sampai kepada praktik pembibitan sayur mayur dimulai dari penanaman bibit “bayam hikmat” (bapinas astunensis) yang dikirimkan dari wisma peristirahatan Ashhabul qafash, di tengah mana Bapak DR.Mohamad Natsir ditahan di Rumah Tahanan Militer di Jakarta, disemai dan ditanamkan pula dilingkungan keluarga.

                Maka tidaklah salah, mungkin berkat kemurahan Ilahi, “bibit yang halus” yang disemaikan dengan baik, dipelihara dengan tekun dan sabar, tentu akan memberikan hasil yang baik dan bermanfaat.

                Apalagi bila disimak yang menyertai pesan secarik kertas kecil dari balik dinding tahanan pada Desember 1963, “sesudah dipotong makin bercabang“, dirasakan nikmat oleh setiap keluarga yang menerima, sebagai amanat yang harus dipelihara dalam kerangka “bai’atul qurba’ itu.

                Dan seorang keluarga besar, bernama Buya Haji Bakri Suleman di Pekanbaru mengungkapkan dengan penuh pengertian “kuunuu ..bayaaman..“, merupakan buhul yang kian saat makin erat untuk mengangkat amal-amal nyata yang lebih berat.

                Kelak kemudian hari, Buya Haji Bakri Suleman, bersama dengan teman-teman beliau, seperti Haji Zaini Kunin, Haji Rawi Kunin, Ibu Hajjah Syamsidar Yahya, Tengku Djalil, Ibu Hajjah Khadijah Ali, dan banyak lagi lainnya, mengamalkan falsafah “sesudah dipotong makin berkecambah”, dapat menelorkan amal khairat yang nyata di Pekanbaru dan daerah Riau.

Diantara amal itu adalah, Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Riau yang melahirkan Universitas Islam Riau (UIR), mandirikan masjid-masjid, membentuk Perwakilan Dewan Dakwah Riau, dan mendirikan Rumah Sakit Islam IBNU SINA Yarsi Riau. Dan semuanya telah dinikmati oleh umat keberadaannya.

 

Pada pertengahan tahun 1968, selama hampir satu bulan Bapak DR. Mohamad Natsir selaku Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia berkeliling di Sumatera Barat (15 Juni – 15 Juli 1968).

Beliau berkeliling mendatangi jama’ah hampir pada setiap daerah tingkat II.

Sejak dari Pesisir Selatan hingga Pasaman, mulai dari Padang hingga Talawi – Sijunjung meng-hidupkan kembali jiwa yang telah diam hampir mati dan mata yang kuyu tanpa harapan.

 

Melalui taushiah yang berharga harapan ummat kembali menggeliat hidup menyambut himbauan “pemimpin pulang”.

 

Bapak DR. Mohamad Natsir, pemimpin pemandu umat Islam Indonesia, bekas Perdana Menteri Pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang di kenal dengan “mosi integral Natsir”.

Beliau termasuk pendiri Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Wakil Presiden  Muktamar Alam Islami,  Ketua Umum Partai Masyumi yang dibubarkan oleh pemerintahan Presiden Soekarno pada tahun 1960, selalu memesankan setiap pribadi pemimpin selalu teguh (istiqamah) dalam pendirian.

 

Di saat para pemimpin pejuang beranjak pulang kembali dari jihadnya menghidupkan jiwa umat, agar selalu terjaga ruhnya tetap hidup,

Bapak DR. Mohamad Natsir, mengingatkan dengan ungkapan yang teramat politis dan puitis tentang kriteria pemimpin yang pulang itu.

Empat cara, pulang bagi Pemimpin dari Perjuangan. Dia pulang dengan kepala tegak, membawa hasil perjuangan.”

Maka dia harus bersyukur kepada Allah, dengan selalu menjaga umat tetap berada pada garis perjuangannya.

Dia tidak boleh berhenti.

 

Ada pula yang, “Dia pulang dengan kepala tegak, tapi tangan di belenggu musuh untuk calon penghuni terungku (tempat pembakaran), atau lebih dari itu, riwayatnya akan menjadi pupuk penyubur tanah Perjuangan bagi para Mujahidin seterusnya”.

 

 Seorang pemimpin penjuang, semestinya me-miliki kerelaan tinggi, berkorban diri untuk kepentingan umatnya.

Bukan sebaliknya, minta di sanjung oleh umat yang di pimpinnya.

Tidak jarang, seorang pejuang pemimpin, ter-paksa harus menyerahkan jasadnya.

Namun, rohnya tetap hidup dan menghidupi jiwa umat yang di pimpinnya.

Karena itu, ada pemimpin,  “Dia pulang. Tapi yang pulang hanya namanya. Jasadnya sudah tinggal di Medan Jihad. Sebenarnya, di samping namanya, juga turut pulang ruh-nya yang hidup dan menghidupkan ruh umat sampai tahun berganti musim, serta mengilhami para pemimpin yang akan tinggal di belakangnya”.

Tentu, bukanlah pemimpin sejati, yang pulang dengan menyerah kalah.

Atau menjadi pengikut arus tasyabbuh, ber-lindung pada hilalang sehelai, karena mendandani diri sendiri.

Lebih parah lagi kalau terjadi pencampur bauran haq dan bathil, sehingga jiwa umat jadi mati.

Pemimpin yang sedemikian, kata Bapak DR. Mohamad Natsir , serupa dengan; 

”Dia pulang dengan tangan ke atas, kepalanya terkulai, hatinya menyerah kecut kepada musuh yang memusuhi Allah dan Rasul.

Yang pulang itu jasadnya, yang satu kali juga akan hancur.

Nyawanya mematikan ruh umat buat zaman yang panjang.

Entah pabila umat itu akan bangkit kembali, mungkin akan diatur oleh Ilahi dengan umat yang lain, yang lebih baik, nanti.

Ia “Pemimpin” dengan tanda kutip.”

Namun, ada pemimpin pejuang yang tidak pernah pulang dari medan jihadnya.

Mereka itu “Adakalanya ada nakhoda berpirau melawan arus.Tapi berpantang ia bertukar haluan, berbalik arah. Ia belum pulang.”

Berpirau artinya maju.

Maju menyongsong angin dan arus.

Waktu berpirau, perahu di kemudikan demikian rupa, sehingga angin dan gulungan ombak tidak memukul tepat depan, tetapi menyerong.  

Adapun haluan pelayaran tetap kearah tujuan yang telah ditentukan, tidak berkisar.

Dalam suasana sulit sekalipun, pemimpin umat harus bisa istiqamah mencapai arah dan tujuannya, walaupun untuk itu dia terpaksa melawan arus dan gelombang..

Pesan ini disampaikan beliau dalam satu ungkapan indah di Medan Djihad, 24 Agustus 1961/ Maulid 1381.

Setahun setelah Masyumi membubarkan diri.

 

Demikianlah suatu sunnatuillah di bebankan kepundak pejuang untuk selalu di ingat oleh  pemimpin pejuang.

 

Ranah Minang dikala itu sedang diuji coba oleh misi baptis mela­lui pendirian Rumah Sakit Baptis di Bukittinggi dengan iming-iming membantu kesehatan penduduk yang lemah.

Dukungan beberapa oknum pihak penguasa diantaranya kalangan tentara telah memberi angin seakan program baptis itu tidak mungkin dihalangi.

Alasannya, menurut mereka yang mendukung, sangat sederhana, karena pihak Baptis berusaha dalam “menyiapkan sarana pokok yang memang di-butuhkan masyarakat yang tengah sakit badan mau-pun perasaan”.

 

Ninik mamak alim ulama sudah bicara.

Namun gaungnya ibarat sipon­gang dalam ngarai. Kata tak berjawab gayung tak pernah disam­but.

Tidak hanya di Bukittinggi gerakan Kristenisasi “Salibiyah” terasa juga di daerah-daaerah pinggiran seperti Pasaman Barat (Kinali). Daerah yang menjadi tempat bermukimnya para transmigra­si.

Ibarat menumpangnya riak dengan gelombang di tengah alunan gerak pembangunan dan pengem-bangan daerah-daerah.

Kondisi ini terasakan pahit oleh masyarakat yang merasa dirinya kalah dan mengambil posisi lebih baik mengalah.

Bila ini diterus­kan bisa-bisa terjadi jalan di alih orang lalu atau tepian dialih orang yang pergi mandi.

Bahayanya, masyarakat jadi dongkol dan berpangku tangan.

Karena itu khusus untuk daerah Sumatera Barat kehadiran Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DEWAN DAKWAH) di sambut sebagai suatu harapan “yang akan mampu menjawab tantangan”, karena dianggap sangat istiqamah sebagai kekuatan anti Komunis yang jelas-jelas seiring dengan misi orde baru ketika itu sebagai orde anti komunis di Indonesia.

Keberadaanya diterima oleh kalangan tua dan muda sebagai suatu kekuatan baru dalam memelihara kerukunan umat dan kejayaan agama.

 

Hanya sebahagian kalangan yang tidak senang dan kelompok-kelompok non Islam yang amat meragukan keberadaan Dewan Dakwah.

Mereka cemas seakan-akan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia akan mengger­akkan kembali pergolakan di daerah, dan mencungkil kembali luka lama yang mulai bertaut.

 

Namun Bapak DR. Mohamad Natsir menasehatkan gubahlah dunia dengan amalmu dan hidupkan dakwah bangun negeri

 

Jadi, programnya jelas,

menghidupkan dakwah membangun negeri”.